inspirasi dan seni

Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

BIOGOLD

Bagi pria ketika hubungan seksual, enak itu baru terasa saat mendekati ejakulasi, hingga akhirnya orgasme. Tapi bila Anda minum BIOGOLD, dari pertama kali penetrasi langsung sudah terasa enaknya. Bila Anda mengkonsumsi BIOGOLD sore, rasanya biasa aja. Tapi malamnya dirangsang dikit aja, pasti langsung ereksi. Itu begitu penis masuk vagina, udah langsung enak banget. Tidak perlu menunggu ejakulasi dan tidak cepat keluar. Satu jam bisa 3-4x ejakulasi...!!!

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah
cara mudah orgasme

Rabu, 01 April 2020

Game Panahan

Work From Home Game



 

Mainkan game ini aja 😉

Silakan Test Usia / Tingkat Kepikunan /Reflek Anda:

Permainan Panahan:
Kena 5 apel --> 70th, banyak-banyak istirahat ya.
Kena10 apel,65th, banyak-banyak makan bergizi supaya ga letoy
Kena15 apel,60th, maklum lah sudah menua
Kena20 apel,50th, masih bisa on gak?
Kena25 apel,40th, oke banget staminanya masih mantab
Kena26 apel ,35th, kamu hebat
Kena27 apel ,30th, hot banget
Kena28 apel atau lebih SUPER SEKALI anda benar-benar awet muda   

BISA KAWIN LAGI !!!!


Test sekarang(red arrow curving down)

Panah Apel


KLIK DI SINI



Your life is your adventure



Share:

Kamis, 26 Maret 2020

Sampai Berapa Lama Pandemi Covid-19 Berlangsung di Indonesia?

Yang hendak saya sampaikan berikut ini murni pengamatan dan intuisi pribadi saja. Jika  meleset I'll take my chances, karena numbers and optimism don't lie!
Ini update terbaru dari Kompas com per tanggal 25.03.2020 :

Titik merah menandakan kasus positif corona, sementara titik kuning merupakan sebaran suspect kasus corona. Hampir seluruh kelurahan di Jakarta terinfeksi virus ini (data dari Situs Covid-19 Pemprov DKI Jakarta).
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti menyampaikan, jumlah pasien positif Covid-19 di Jakarta sebanyak 427 orang per Selasa (24/3/2020) sore. Dari total pasien, 23 orang dinyatakan sembuh, sedangkan 32 orang meninggal dunia.
Dan ini dari kota Depok tempat saya tinggal, episentrum kasus Covid-19 pertama di Indonesia yang terdeteksi (kurang menakutkan apa coba?), data dari Covid-19 Depok:



Dan ini update se-Indonesia dari Kompas com juga:
Pada Selasa (24/3/2020) sore kemarin, Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan , total ada 686 kasus Covid-19 di Indonesia. Angka tersebut bertambah 107 dari data sebelumnya. Ia juga mengumumkan, terdapat total 55 pasien meninggal dan total sembuh 30 pasien.
Jika datanya diakumulasikan per hari ini, maka Covid-19 di INDONESIA (sejauh ini):
Mortality rate: 8,017%.
Sementara harapan sembuhnya: 4,373%.
Angka di atas tentunya belum final karena masih berjalan terus dan belum menjawab pertanyaan utama juga, tapi bisa dianalisis dengan beberapa perspektif.

Sekarang kita kontraskan dengan kasus Covid-19 terburuk KEDUA di dunia dan paling disorot juga karena China semakin sukses menghadapi kasusnya, yaitu Italia. Anda bisa kroscek juga ke berbagai sumber kredibel, saya mengambil data dari Worldmeter:





Coronavirus Cases: 69.176;  
Deaths: 6.820;  
Recovered: 8.326. 

Dengan kata lain, Covid-19 di ITALIA:
Mortality rate: 9,858%.
Sementara harapan sembuhnya: 12,035%.
Angka di atas tentunya belum final karena masih berjalan terus dan belum menjawab pertanyaan utama juga, tapi bisa dianalisis dengan beberapa perspektif.

Sebagai hipotesis :
  1. Mortality rate Covid-19 masih di bawah 10%.
  2. Tapi tingkat harapan kesembuhannya di atas 10%
Oke sekarang kita bandingkan dengan data kasus di China juga. Tren yang sama positif. Saya sudah menghitungnya sendiri dan ini mencengangkan dibanding data yang masih berjalan di Indonesia dan Italia (kedua negara itu masih prematur untuk disimpulkan):

Covid-19 di CHINA RRT (negara awal terjadinya Covid-19):
Total cases: 81.218
Deaths: 3.281
Recovered: 73.650.
Mortality rate: 4,0397%.
Tingkat harapan kesembuhan: 90,681%

Nah, sekarang kembali ke pertayaan awal dan patut direnungkan :

1. Perlukah Anda takut  berlebihan soal Covid-19?
    • Saya jawab: tidak.
2. Langkah apa yang harus kita ambil?
    • Saya jawab: tetap waspada, social distancing, jaga kesehatan, hidup bersih, gaya hidup sehat, aktif olahraga, dan tentunya berdoa.

Apa MODAL UTAMA Indonesia dalam menghadapi Covid-19? 
Sesimpel ini:



100 juta lebih orang ada di usia di bawah/sama dengan 50 tahun adalah bonus demografi kita, kaum mudanya yang sehat-sehat dan semoga lebih kuat imunitasnya dibanding yang lebih tua usia 50+ tahun.

Dengan kata lain:
  1. Percayalah, generasi muda Indonesia tangguh-tangguh kok tidak selemah yang Anda pikir fisiknya. Setiap hari kita 'jajan sembarang di asongan dll, tapi apakah setiap hari kita kena diare dll?
  2. Dengan mawas diri dan sikap waspada tapi berempati juga (tidak egois), saya percaya badai Covid-19 ini bisa cepat berlalu dalam 1–3 bulan mendatang.
  3. Ini juga berarti bahwa kita kaum muda harus lebih memperhatikan mereka yang lebih tua dan punya kondisi medis tertentu karena mereka yang sangat rentan terhadap Covid-19. Jangan sampai karena ulah Anda justru menularkannya kepada mereka. The blood is in your hands.

Tidak perlu menyebar hoax demi kepuasan pribadi atau meraup jutaan views dalam waktu singkat Hidup benar dan yang lurus-lurus saja. Semoga kita semua bisa melalui semua cobaan ini dalam waktu yang relatif singkat 1–2 bulan saja dan minim korban.





Share:

Sabtu, 21 Maret 2020

Covid-19? Haruskah Kawatir?

Misalnya ada dua jenis virus yang sama-sama cepat membunuh serta cepat menular, yaitu virus X yang punya angka kematian (fatality rate) 98% dan virus Y yang punya angka kematian 2%. Manakah yang lebih potensial menjadi ancaman global?

Dari sudut pandang kita sebagai individu, virus X terlihat jauh lebih mematikan. Namun dari sudut pandang global, tidak selalu demikian.

Ketika sebuah virus dengan sangat cepat membunuh 98% host-nya maka hanya ada tersisa 2% pasiennya yang masih bertahan untuk menyebarkan virus tersebut. Tetapi sebaliknya, andaikata virus "hanya" membunuh 2% host-nya, ada potensi untuk 98% penderita sisanya menyebarkan virus ini lebih luas lagi. Sewaktu 98% inang virus tadi berpotensi jadi penular, tentu network effect-nya pun akan menjadi jauh lebih besar sehingga agen-agen virus seperti ini relatif jauh lebih cepat meluas.

Hal ini adalah salah satu alasan mengapa novel coronavirus (COVID-19) mewabah.
Dan seperti yang sudah-sudah, sejarah mencatat hal ini bukan masalah kecil.

Saya bukan ahli medis, jadi saya mau berbicara soal sejarah saja.

Berbarengan dengan berakhirnya Perang Dunia I sekitar seratus tahun silam, Eropa dihantam wabah influenza. Tidak diketahui pasti dari mana asal flu ini, sebab negara Benua Biru ketika itu masih sibuk berperang, sehingga media cenderung tidak rewel meliput peristiwa pandemi yang sedang terjadi. Hampir semuanya sibuk membahas perang besar (The Great War) yang sudah memasuki tahun keempat.

Hampir semua negara. Kecuali Spanyol.
Spanyol tidaklah aktif terlibat di Perang Dunia I. Kala gelombang influenza merebak menyesaki Benua Eropa, media massa Spanyol barangkali adalah sedikit suara yang senantiasa lantang dan paling konstan memberitakan.

Alhasil, wabah influenza ini kemudian dikenal sebagai Flu Spanyol.

Barulah sewaktu Perang Dunia I berakhir sebelas bulan kemudian, masyarakat Eropa menyadari wabah yang sudah ada di depan hidung mereka. Wabah Flu Spanyol tadi tidak hanya melanda Eropa, namun juga cepat meluas hingga Amerika, Asia, hingga Afrika, dan bahkan menjangkau kepulauan-kepulauan kecil di Pasifik.

"Tidak usah khawatir, cukup cuci tangan saja!"

Semenjak pertama kali Flu Spanyol dideteksi pada Januari 1918 hingga penghujung wabah tersebut pada Desember 1920 (hampir tiga tahun), virus ini menjangkiti 27% penduduk dunia pada masa itu atau nyaris 500 juta korban. Pandemi global ini pun menyelimuti dunia, membuat rumah-rumah sakit dibanjiri pasien, ekonomi berhenti berputar, dan kematian terjadi di mana-mana.

Dari data American Journal of Epidemiology, 17 juta orang tewas di pandemi ini. Coba hitung, berapa angka kematiannya? Hanya 3%. Benar. Angka kematian 3% bisa menghilangkan 17 juta nyawa jika tidak terkendali. Dari sini, kita bisa melihat bahwa angka 3% bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan begitu saja. Bayangkan 1 pasien Flu Spanyol menularkannya ke 5 orang lalu 5 orang menularkan ke 25 orang, 25 orang menularkan ke 125 orang, dan seterusnya. Dari 125 pasien tersebut, 4 di antaranya meninggal dunia. Tiga persen.

Maka bayangkan berapa banyak yang harus kehilangan nyawa seandainya virus tadi menyebar ke 1 juta orang atau 10 juta orang? Cara terbaik tentu saja mencegahnya sebelum wabah serupa menjadi terlalu besar.

Apabila kita mau belajar dari sejarah, Hindia Belanda (Indonesia) adalah satu daerah dengan penanganan pandemi begitu buruk dan angka kematian begitu tinggi pada periode pandemi Flu Spanyol tahun 1918–1920. Baik pemerintah kolonial yang tidak tanggap, rakyat dengan kesadaran kesehatan rendah, fasilitas kesehatan yang parah, hingga media yang terkesan meremehkan keadaan.

Dari total penduduk yang hanya 30 juta di kala itu, angka kematian ditengarai dapat mencapai 1,5 juta jiwa penduduk nusantara. Jauh di atas rata-rata global.

Menurut studi Siddharth Chandra tahun 2013, dalam "Mortality from the Influenza Pandemic of 1918–19 in Indonesia", angka kematian di kepulauan nusantara bahkan mencapai empat kali lipat dari estimasi awal yaitu sekitar 5 juta jiwa.
Daerah dengan pandemi buruk seperti Madura kehilangan 23,71% populasi alias 1 dari 4 penduduk Madura tewas gara-gara flu hanya dalam kurun waktu dua tahun.

Namun dikarenakan buruknya pencatatan pada saat itu, tidak diketahui pasti berapa angka kematian sebenarnya, apakah di kisaran 1,5 juta atau mencapai 5 juta jiwa.
Yang jelas, angkanya besar.

Musim Kematian : Pandemi “Flu Spanyol” di Hindia Belanda 1918-1919

Hindia Belanda boleh dibilang terlambat menyadari ancaman Flu Spanyol. Respons masyarakat pada waktu itu cenderung meremehkan. Harian Sinar Hindia menduga Perang Dunia I merusak kualitas udara sehingga membuat banyak orang terserang penyakit flu.

Harian Sin Po menuliskan "Ini penjakit sedang hebatnja mengamoek di seantero negeri, sekalipoen tiada begitoe berbahaja seperti kolera atau pes."

Bahkan surat kabar De Sumatra Post sempat menyebut pandemi ini sebagai penjakit rakjat bersifat sementara yang tidak perlu dikhawatirkan.

Agak mirip dengan COVID-19 yang digambarkan media seperti flu biasa, kemudian dibanding-bandingkan dengan pandemi demam berdarah di NTT, atau pemerintah Indonesia yang berusaha meredam kepanikan, serta lebih memilih sibuk mengurusi influencer pariwisata. Respons nenek moyang kita kurang lebih sama.

Tetapi tidak butuh waktu lebih dari beberapa bulan untuk menyadari, bahwa rakyat nusantara telah salah menilai penyakit ini. Pandemi pun merebak dengan cepat dan membunuhi masyarakat, satu demi satu, memasuki pergantian tahun 1918.

Dikisahkan pada waktu itu, rumah-rumah sakit di Sumatera kesusahan menampung penderita flu karena kapasitas yang belum mencukupi. Pada akhir 1918, akses-akses pelabuhan di nusantara telah ditutup pemerintah kolonial guna mencegah pandemi meluas. Bahkan pemerintah kolonial menyebarkan buklet berjudul Lelara Influenza terbitan Balai Pustaka yang bercerita kisah-kisah wayang Jawa untuk menggalakkan kesadaran masyarakat Jawa dalam menjaga kebersihan di tengah meluasnya wabah serta mayat-mayat yang mulai bergelimpangan.

Ketika pandemi global Flu Spanyol ini mewabah, reaksi media-media global kurang lebih mirip dengan reaksi media-media global pada saat ini. Mulai dari rekomendasi menggunakan masker, berita penutupan akses pelabuhan serta stasiun, pembatalan berbagai acara gathering, hingga anjuran minum jamu atau obat herbal.

Hingga kemudian, mereka menyadari bahwa hal tersebut jauh lebih serius daripada masalah yang sebelumnya mereka perkirakan. Bahkan Flu Spanyol membunuh lebih banyak orang daripada Perang Dunia I yang baru saja tuntas. Nada pemberitaan pun dengan cepat berubah : "We are in deep trouble."


Tiga persen. Angka kematian yang konon "hanya" tiga persen.

Sejarah senantiasa berulang dengan topeng yang berbeda. Apabila kita belajar dari sejarah, sayangnya seringkali tidak, seharusnya kita menyadari perihal ancaman nan mahabesar yang mengintai dan dapat hadir sewaktu-waktu. Seharusnya apabila hal serupa datang lagi, kita sudah jauh lebih siap.

Melihat respon pemerintah selama ini tentu mengecewakan. Menghadapi pandemi global, rasa nasionalisme tidak sepenting rasa internasionalisme, serta sifat defensif tidak sebagus sifat transparan. Di momen-momen seperti ini sepantasnya kita lebih terbuka untuk bekerja sama dan belajar dari negara-negara yang lebih maju, bukan bersikap ultra-defensif atau malah berusaha berburu turis.

Apakah COVID-19 akan jadi Flu Spanyol di generasi ini? Saya tidak tahu. Ahli medis pastinya lebih bisa memberikan penjelasan ilmiah soal itu. Namun sejarah merekam bahwa meremehkan pandemi bisa berakibat fatal.
Di sisi lain, saya juga mencoba untuk positif.

Untuk kali ini, ilmu kedokteran modern tentu sudah jauh lebih maju. Bukan separah seabad yang lalu ketika para pengidap flu dirawat di tenda massal dan banyak yang meninggal dunia di gubuk-gubuk dengan penanganan medis serba minimal. Hal ini tentunya menjadi faktor penting di dalam optimisme menghadapi COVID-19.

Namun terlepas dari semua itu, kewaspadaan selalu diperlukan. Karena apabila kita belajar dari sejarah, bangsa ini kerapkali terlambat menyadari ancaman. Soal angka kematian yang hanya 2% sama sekali bukanlah alasan untuk meremehkan.
Karena kita bukan keledai yang senantiasa terperosok ke lubang yang sama.

Akankah Indonesia Mengulangi Kesalahan Flu Spanyol?
Semoga tidak.


Share:

Mereka Tak Mati

Mereka tidak mati,
hanya pergi.
Mereka tidak mati,
masih kurasakannya tadi....
 
Aku mau terlelap ini malam,
biarkan kuterpejam
biarkan tangis mengantarku,
biarkan duka memelukku.
 
Mereka tidak mati,
hanya pergi,
pergi bersama doa,
dan pulang saat ku nanti terjaga.
Share:

Orang Bisa Mati Kapan Saja

"Orang bisa mati kapan saja dan dimana saja."
Betul itu. Bahkan mungkin saat saya menulis ini bisa tiba-tiba mati.
Atau orang yang Anda sayangi pamit berangkat pada suatu pagi, lalu dia tidak kembali lagi,
pergi selamanya.
Saya selalu berkata pada setiap orang yang saya kenal,
kematian itu seperti arisan, datang bergiliran,
yang pada akhirnya akan mendatangi setiap orang.
Anda tidak akan tahu kocokan ini akan muncul nama Anda atau orang lain.
Saya hidup untuk hari ini, dan berpikir bahwa sekaranglah hari terakhir hidup saya.
Agar saya bisa mencintai orang dengan maksimal,
agar saya selalu ingin bersilahturahmi dengan kawan-kawan,
agar saya selalu bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan menyapa orang yang saya kenal.
Kapan lagi kalau bukan hari ini.
Karena bila esok tidak ada, yang tertinggal hanya tangis dan kesedihan.
.
.
Salam anget.
 
**semua orang ingin masuk surga, hidup abadi dan mulia.
Tapi ketika ada antrian menuju ke sana, semuanya berlomba untuk menjadi yang terakhir.....
Share:
Adsense Indonesia

Blog Archive