inspirasi dan seni

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah
cara mudah orgasme

Selasa, 29 Januari 2019

Kemanakah Arah Politik Ahok?

Pada Pilpres 2019, Ahok punya empat pilihan politik:
mendukung petahana,
paslon 02,
netral atau
abstain.

Opsi terakhir tampaknya tidak akan diambil Ahok, sebab melalui surat yang dibuatnya baru-baru ini, dia justru menghimbau pengikutnya agar tidak golput.
Bila membaca suratnya, ada kecenderungan Ahok akan memilih opsi ketiga, yaitu netral. Sinyalnya menuju ke sana. Tetapi Ahok kan tidak mudah ditebak.

Dulu, misalnya, dia pernah tegas menolak diusung oleh partai untuk maju di Pilkada DKI Jakarta. Keinginannya melalui jalur independen. Namun pada akhirnya tetap diusung oleh partai juga.
Jadi, walaupun surat Ahok tidak memberi kode dukungan kepada salah satu paslon, itu bukan jaminan Ahok akan mengambil sikap netral atau hanya puas menjadi pemilih di Pilpres.

Sedangkan untuk memilih opsi kedua, yaitu mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, kemungkinannya lebih kecil lagi. Ada hambatan psikologis dari masing-masing pihak untuk membangun kerjasama politik.
Ahok sepertinya berat untuk mendukung paslon 02 karena secara real politic, partai-partai pendukung Prabowo-Sandi justru merupakan lawan politiknya.
Sementara dari kelompok pendukung Prabowo-Sandi pun tampaknya masih memperlihatkan sikap anti-Ahok. Sikap itu terutama datang dari mereka yang sangat keras menentang Ahok pada kasus penodaan agama.

Oleh sebab itu, saya menduga pada gilirannya Ahok akan mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.
Walaupun dukungan itu mungkin tidak langsung ia nyatakan di hari kebebasannya atau pada waktu dekat, tetapi dipertengahan waktu atau menjelang hari pemungutan suara boleh jadi dukungan itu akan ia berikan.

Soal dukungannya akan ia sampaikan secara ekplisit atau implisit itu soal lain. Tetapi pilihan pada opsi yang pertama ini tampaknya menjadi kemungkinan yang paling besar.

Bahwa di kubu paslon 01 ada figur cawapres Ma'ruf Amin yang punya peran besar menjebloskan Ahok ke penjara, itu saya kira bisa diselesaikan lewat kompromi politik.
Apalagi Ma'ruf Amin sendiri sudah pernah menyampaikan permintaan maaf untuk kasus Ahok yang ia sebut terpaksa ia lakukan karena suatu situasi.

Tetapi jika kelak Ahok mendukung paslon 01, hal itu tampaknya tidak akan memberi banyak pengaruh terhadap peningkatan suara Jokowi-Ma'ruf. Sebab, kecenderungannya pendukung Ahok selama ini sudah mendukung capres petahana.
Artinya, tanpa adanya pernyataan dukungan dari Ahok sekalipun, tren dukungan para 'Ahokers' terhadap paslon 01 sebenarnya sudah tergambar di dalam hasil survei, misalnya.

Masalahnya, dukungan Ahok kepada Jokowi-Ma'ruf justru bisa merugikan bagi pasangan itu jika Ahok kembali membuat 'ulah'. Hal ini mengingat Ahok adalah sosok kontroversial yang ucapannya seringkali memantik kemarahan dari pihak lain.

Kelompok 'swing voters' Jokowi-Ma'ruf bisa saja mengalihkan dukungannya ke kubu Prabowo-Sandi jika Ahok tidak berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan.
Sekali saja Ahok melakukan blunder yang menyangkut isu-isu sensitif, maka selain berpotensi kehilangan suara dari pemilih 'bersayap', Jokowi-Ma'ruf juga akan semakin berat untuk mempengaruhi kelompok 'undecided voters'.

Kekhawatiran tentang hal itu bukan tanpa alasan, sebab dalam surat Ahok terdapat frasa yang menyebutkan "Aku akan semakin arogan dan kasar dan semakin menyakiti hati banyak orang".
Lebih jauh lagi, jika Ahok kembali "berulah", maka hampir dapat dipastikan iklim Pilpres 2019 akan lebih panas dari Pilkada DKI Jakarta 2017.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah mampir.
Silakan meninggalkan komentar dan SHARE ke media sosial Anda.

Adsense Indonesia

Blog Archive