inspirasi dan seni

Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

BIOGOLD

Bagi pria ketika hubungan seksual, enak itu baru terasa saat mendekati ejakulasi, hingga akhirnya orgasme. Tapi bila Anda minum BIOGOLD, dari pertama kali penetrasi langsung sudah terasa enaknya. Bila Anda mengkonsumsi BIOGOLD sore, rasanya biasa aja. Tapi malamnya dirangsang dikit aja, pasti langsung ereksi. Itu begitu penis masuk vagina, udah langsung enak banget. Tidak perlu menunggu ejakulasi dan tidak cepat keluar. Satu jam bisa 3-4x ejakulasi...!!!

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah
cara mudah orgasme

Senin, 31 Desember 2018

Apa Yang Terjadi Setelah Manusia Mati?



Saya berbicara bersama arwah mencari tahu apa yang terjadi setelah kita mati. Dari penjelasan orang-orang yang meninggal itu, saya berbagi teori tentang apa yang terjadi setelah manusia dikuburkan. Saya tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi ketika kita meninggal. Akan tetapi, saya setidaknya sekarang memiliki gambaran karena sering berbincang dengan orang yang sudah meninggal.
Begini, saya adalah seorang spiritualis. Saya bisa mendengar, melihat dan merasakan keberadaan makhluk halus. Pengalaman ini tidak menakutkan. Kalau dipikir-pikir lebih mirip film Ghost yang diperankan Whoopi Goldberg (ketika dia tidak menipu orang). Anda mungkin menganggapnya aneh, tapi saya merasa biasa-biasa saja dengan semua ini.
Saya pernah berbicara dengan roh laki-laki yang mendatangi saya untuk memberikan saran berpakaian kepada seorang teman bernama Sahar. Dia diminta berbicara di acara memorial laki-laki tersebut di rumahnya. Sahar membawa sepatu modis yang tidak nyaman dipakai. Roh tersebut ingin menegurnya untuk pakai sepatu biasa saja. (Lelaki itu sebenarnya sangat bijaksana, tapi masalah sepatu ini benar-benar mengusik karena dia sering membicarakan perihal  sepatu Sahar semasa hidupnya.)
Tak peduli apa kata orang lain, satu hal yang pasti adalah kita mati setelah meninggal. Siapa pun yang berpandangan berbeda pasti hidup dengan angkuh. Saya tidak bisa bilang saya paham, tapi saya sangat yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagi saya, tidak ada yang namanya kematian. Maksudnya, iya kita mati. Tubuh berhenti berfungsi, dan jiwa meninggalkan tubuh kita. Saya menyadari itu. Namun, bukan jiwa yang berada di dalam tubuh. Tubuh lah yang hidup di dalam jiwa kita. Jadi, jiwa kita akan tetap mengembara meskipun tubuh sudah selesai menjalankan tugasnya di dunia. Kita sangat mudah terjebak dalam pikiran manusiawi ketika memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi seperti yang dikatakan Gertrude Stein: “there is no there there.”
Sebagai spiritualis, tugas saya bukan melacak keberadaan makhluk halus untuk menanyakan apa yang mereka lakukan “di sana.” Saya hanya mengobrol dan membantu mereka. Saya juga sering menjadi perantara antara mereka dan orang yang masih hidup. Mereka sering menunjukkanku bagaimana rasanya ketika meninggal atau masa-masa bahagia mereka. Mengobrol dengan roh sama normalnya seperti kita berbincang dengan manusia biasa. Kadang santai, kadang serius juga. Rasanya seperti mengobrol dengan orang tanpa tubuh. Dengan kata lain, saya melihat dan mendengarkan mereka dengan seluruh diriku, bukan hanya mata dan telinga saja.
Waktu pertama kali menjadi spiritualis, ada perempuan yang mendatangi saya karena dia merasakan kehadiran arwah neneknya di rumah. Dia yakin kalau neneknya ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Saya pergi ke rumah Bunga (sebut saja demikian) dengan penuh semangat, dan memang merasakan kehadiran neneknya (sebut saja Mawar) di sana.
Neneknya ngotot ingin menyampaikan pesan kepada cucunya, dan saya amat terkejut mendengarkan ucapannya. “Ambil uang suamimu sampai habis. Lakukan sekarang!” katanya. Saya awalnya tidak mau memberi tahu Bunga, karena dia sangat menyayangi neneknya dan berharap mendapat pesan menyentuh. Tapi, saya tidak berhak mengubah isi pesan yang diterima, jadi saya memberi tahu Bunga apa adanya. Bunga langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya. Nenek Mawar ternyata terobsesi dengan uang, dan kakeknya menghabiskan uang tabungan mereka untuk berjudi. Mawar tak pernah bisa melupakan ini bahkan setelah meninggal, maka dia mendatangi cucunya hanya untuk menyuruh Bunga mencuri uang suaminya. Dari sini, kita bisa melihat kalau nilai-nilai, gairah, dan segala hal yang melekat pada diri akan terus bersama kita ke manapun kita pergi.
Bila semasa hidup Anda brengsek, setelah mati pun, Anda tetap orang brengsek. Kalau Anda mati penuh rasa bersalah, rasa itu akan mengikuti. Seperti semua pengalaman transformatif, kematian bisa menjadi penebusan dosa atau penyembuhan, tapi ini bukan jaminan. Pikirkan setiap saat Anda merasa bisa mencapai kedamaian, kebebasan, atau bahkan hanya istirahat, tapi Anda tidak bisa merasakannya. Mengambil inisiatif itu tidak gampang, dan Anda harus percaya bahwa Anda berhak menjalankan hidup dengan baik.
Istilah Surga dan Neraka sebagai lokasi fisik yang menawarkan kedamaian dan hukuman materiil hanya merupakan konsep agar mudah dipahami. Tapi menurut saya, tanpa bentuk fisik, ya tidak ada yang namanya tempat. Secara teknis, kita bukannya pergi kemana; dan tanpa patokan mengenai dimana, unsur kapan menjadi sebuah dimensi yang semakin susah diukur. Ini tidak romantis, tidak selalu menyenangkan atau buruk, pokoknya tidak mudah untuk digambarkan. Seperti kehidupan nyata, karena itu memang bagian dari kehidupan, tapi pengalaman kehidupan yang berbeda. Hal ini susah dibicarakan karena sebagai makhluk fisik, kita hanya memiliki bahasa dan konteks pengertian kenyataan fisik. Bahasa adalah hal fisik, yang membuatnya susah untuk menghindari klise ketika membicarakan hal seperti ini. Bila Anda bingung, ingat saja ini: “Kita lebih dari sekedar tubuh kita.”
Saya pernah berbicara dengan banyak sekali orang mati yang menyesal selama hidupnya tidak mengejar mimpi mereka demi menyenangkan orang lain. Yang saya pelajari dari itu adalah bahwa kita harus berhenti mencoba menjadi orang lain. Lakukan apa yang seharusnya Anda lakukan.
Setelah sebuah roh menggugurkan tubuhnya, dia akan memasuki “fase kepompong,” dimana dia terinsulasi, terlindungi, dan aman. Ini sebuah fase yang mengizinkan kita untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru dan melepaskan kehidupan fisik yang baru kita tinggalkan.
Siklus ini rupanya lebih mudah bagi anak-anak, orang yang berdamai dengan spiritualitas kematian, dan mereka yang sudah tahu mereka akan meninggal. Karena tubuh itu tidak ada, maka waktu juga tidak ada, jadi seberapa lama sebuah roh menetap di fase ini tidak penting. Anda akan menetap di situ selama dibutuhkan.
Untuk memahami konsep ‘tidak ada waktu,’ bayangkan seperti Anda sedang bermimpi, Anda bisa tertidur selama 15 menit dan ketika Anda bangun, mungkin Anda merasa sudah tidur berjam-jam. Atau mungkin Anda bisa tidur delapan jam penuh dan ketika  bangun, Anda merasa hanya beberapa menit telah berlalu. Saat Anda tidak berada di dalam tubuh, waktu menjadi hal berbeda karena waktu adalah konsep duniawi.
Masa hidup orang yang sudah mati masing-masing sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Jadi tidak perlu memikirkan seberapa lama sebuah roh berada pada fase ini karena waktu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Saat seseorang memasuki fase kepompong ini, mereka belum dapat berinteraksi, dan orang yang mereka cintai belum dapat merasakan kehadiran mereka. Seperti sebuah perawatan spa untuk roh dengan tulisan “jangan diganggu” di pintu. Roh tersebut bukannya tidak bisa dihubungi, tapi tidak sopan kan bila diganggu.
Setelah sebuah roh meninggalkan fase kepompong, dia akan tetap beresonansi dengan kepribadiannya selama jangka waktu yang tidak diketahui. Orang yang sudah meninggal sering menunggu kehadiran orang-orang terdekat karena alasan cinta atau kesetiaan, tapi saya tidak dapat mengakses rencana perjalanan atau pengalaman mereka. Saya hanya merupakan saluran untuk pesan. Seperti radio batiniah. Tapi saya tahu bahwa pada titik waktu tertentu, sebuah roh akan menjadi penuh hingga memasuki keadaan lengkap, mulai meninggalkan kepribadian mereka, lalu dipenuhi dengan cahaya diri mereka yang hakiki, dan begitu indah.
Berbicara dengan seseorang yang telah berhasil bertransformasi dari kepribadian mereka adalah hal yang indah; seakan-akan arwah itu menjauhi dan mendekatiku sekaligus. Saya tidak melihat cahaya seperti di film, di mana orang yang sudah meninggal berubah menjadi bola cahaya. Tapi energi yang kita wujudkan memang menyerupai cahaya dibanding bentuk lain. Indah bagi saya mengetahui bahwa hidup itu sebenarnya tidak berakhir, tapi terus berubah bentuk selama perjalanan sesudah mati.

Jessica Lanyadoo


Share:

Rabu, 26 Desember 2018

Apakah Yesus Sama dengan Isa??


Satu pertanyaan singkat tersebut memiliki jawaban yang cukup panjang dan perlu kajian yang mendalam. Sama atau tidak, tergantung dari sudut pandang mana Anda melihat.

Benarkah Yesus lahir tanggal 25 Desember?
Tidak ada yang tahu kapan persisnya dia lahir. Kalau tidak ada bukti bahwa Yesus Kristus lahir pada 25 Desember, mengapa Natal dirayakan pada tanggal tersebut? Encyclopedia Britannica mengatakan bahwa para bapak gereja kemungkinan memilih tanggal itu "agar bertepatan dengan perayaan kafir Romawi yang memperingati hari lahir matahari yang tak tertaklukkan”, pada titik balik matahari di musim dingin. Banyak pakar percaya bahwa hal ini dilakukan agar Kekristenan lebih bermakna bagi orang-orang kafir yang menjadi Kristen. Madhzab mayor Kristen memperingati kelahirannya setiap 25 desember, tapi ada juga yang memperingatinya tgl 7 jan atau tgl lain.  Tidak ada masalah soal itu. Karena peringatan natal lebih pada bagian dari budaya dan tradisi saja.

Sudut pandang sejarah.
Sebagai tokoh sejarah, ada seorang anak tukang kayu bernama Yeshua, lahir di Betlehem sekitar tahun 6/5 SM. Beragama Yahudi pada masa pemerintahan kaisar Agustus. Nama diri Yesus berasal dari bentuk Latin nama Yunani Iesous, yang merupakan bentuk Yunani untuk nama Ibrani Yehoshua, dengan variasi Ibrani Yosua atau Yoshua. Sedangkan Isa secara etimologi merupakan hasil bentukan yang disesuaikan lidah penutur bahasa Arab.
Merujuk pada konteks ini, ciri-ciri yang disebutkan Quran dan Alkitab, Yesus dan Isa mempunyai banyak kemiripan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Yesus sama dengan Isa.

Sudut pandang agama.
Mayoritas kristen (ada madzhab kristen yang berpandangan berbeda) mengakui bahwa tokoh bernama Yesus adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia yang lahir tanpa proses pembuahan, anak Maria, mati di salib dan bangkit pada hari ketiga.
Sedangkan Isa dalam islam adalah seorang nabi, anak Maryam, dianugerahi mukjizat oleh Allah, tidak mati di salib, diangkat dari dunia ke langit dan dimuliakan.
Merujuk pada konteks ini, Yesus dan Isa adalah 2 tokoh yang BERBEDA. Yang satunya Tuhan dan satunya nabi. 
Maka tidak perlu ada pertentangan soal ini, karena masing-masing kepercayaan mengimani 2 tokoh berbeda. Yesusmu bukan nabiku dan Isamu bukan tuhanku, karena mereka adalah tokoh berbeda.

Bila demikian, berarti Tuhan tidak Maha Satu dong?
Dengan adanya perbedaan "sesembahan tuhan" mungkin saja memang ada banyak tuhan. Karena masing-masing agama memiliki tuhannya sendiri yang tidak disembah agama lain.
Mungkin juga hanya ada satu tuhan yang benar. Adanya perbedaan "sesembahan tuhan" lebih dikarenakan salah tafsir pada "Firman Tuhan" yang turun temurun pada penganut agama.
Lebih ekstrim lagi, mungkin saja tuhan itu tidak ada, hanya mitos. Yang ada hanyalah alam semesta dengan segala hukumnya tanpa ada tokoh tuhan.

Agama dan mitos
Kisah di luar logika yang diceritakan turun temurun yang tidak Anda saksikan sendiri  adalah dongeng dan mitos. Ketika mitos itu Anda percayai, maka itu disebut keyakinan, hanya yakin tanpa perlu dibuktikan. Lalu ketika keyakinan tersebut terus Anda pegang dan percayai, jadilah iman. Orang-orang yang memiliki iman yang sama, berkumpul berserikat dan memiliki syahadat yang sama menjadi dogma akhirnya terbentuklah kepercayaan atau agama.

Agama yang Anda peluk adalah agama yang paling benar menurut Anda. Setiap agama merasa yakin dirinya yang benar. Lalu kepercayaan mana yang paling benar? Hanya waktu yang akan menjawabnya. 

Agama Nordik yang menyembah Odin dianut banyak bangsa berumur lebih dari 2000 tahun. Toh, akhirnya punah. Pada Abad Pertengahan Akhir semua orang, yang dulunya menyembah Odin, telah berpindah ke agama Kristen, dan hampir tak ada lagi yang menyembah Odin. Bahkan tokoh agama tersebut sekarang menjadi cameo di film Avenger.

Agama Zeus pun memiliki nasib yang sama, kini hanya menjadi mitos tanpa ada yang mengimani. Padahal dulu banyak sekali ummatnya dan kuil-kuil pemujaannya tersebar di berbagai daratan.

Apakah agama Anda yang "berumur muda" ini nantinya akan mengalami hal yang sama? Atau bahkan akan terus abadi? Sekali lagi, hanya waktu yang akan menjawabnya. Anda boleh yakin agama Anda paling benar dan abadi. Tidak masalah. Yang penting adalah agama yang Anda anut ini membuat Anda berbuat baik pada orang lain dan hidup lebih berbahagia.



Salam anget.




Share:

Senin, 03 Desember 2018

Kristen Tidak Sama Dengan Nasrani


Dalam bahasa Arab, kata “nashara” merupakan bentuk jamak dari “nashrani”. Sebutan “umat Nasrani” secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen. Kita sering jumpai ucapan selamat Natal dari sebagian kaum Muslim diawali dengan kalimat “Buat kawan-kawan umat Nasrani”. Bahkan, dalam tulisan teolog Kristen Rinto Pangaribuan, kata “Nasrani” dan “Kristen” digunakan secara bergantian.

Sepanjang sejarah Kristen, umat Kristiani tidak menyebut diri mereka sebagai “nashara” atau kaum Nasrani. Orang-orang Kristen Arab menyebut diri mereka dengan kata “masihiyyun” (pengikut al-Masih) dan karena itu agama Kristen disebut “masihiyyah”. Di kalangan komunitas non-Arab pun istilah “nashara” tidak digunakan untuk menyebut para pengikut Yesus.

Dalam literatur Kristen berbahasa Suriah (Syriac), misalnya, dikenal istilah mshihaya. Yakni, seperti padanan Arabnya, para pengikut al-Masih. Juga, dalam bahasa Yunani lebih dikenal sebutan kristyana, yang berarti pengikut Kristus. Kaum Muslim menggunakan istilah nashara atau nashrani karena al-Qur’an menggunakan kedua kata tersebut. 

Siapakah kaum nashara dalam al-Qur’an? Bolehkah kita memanggil umat Kristiani sekarang dengan sebutan nashara? Sebelum pertanyaan terakhir dijawab “tidak”, kita perlu diskusikan pertanyaan pertama dahulu.


“Nashara/Nashrani” dalam al-Qur’an
Kata “nashara/nashrani” muncul empat belas kali dalam al-Qur’an. Selain itu, Kitab Suci kaum Muslim juga menggunakan istilah “ahlul kitab” sebanyak lima puluh empat kali, yang mencakup di dalamnya umat Kristiani. Dalam satu ayat, umat Kristiani disebut “ahlul injil”. Ketiga istilah tersebut digunakan untuk merujuk pada para pengikut Isa, putera Maryam.

Menarik dicatat, di antara ketiga istilah tersebut, kata “nashara” yang paling sedikit didiskusikan. Padahal, istilah itu sebenarnya yang paling problematik atau, setidaknya, enigmatik. Kaum Muslim sekarang secara taken-for-granted mengira bahwa nashara/nashrani merupakan sebutan yang diterima luas oleh umat Kristiani. Bahkan, mungkin sebagian umat Kristiani sendiri tidak mengetahui bahwa nashara/nashrani adalah sebutan yang bersifat peyoratif.

Sebelum didiskusikan lebih lanjut watak peyoratif istilah nashara, ada baiknya disebutkan terlebih dahulu aspek filologis dan leksikografis dari kata enigmatik itu. Sebenarnya para mufasir Muslim awal tampak kesulitan melacak etimologi kata “nashara”.

Ada dua tafsir yang mereka ajukan. Pertama, melacak kata “nashara” dari sisi geografis, yakni dikaitkan dengan nama daerah di mana Isa dan Maryam tinggal, Nasirah (Nazareth). Dengan demikian, nashara adalah para pengikut seorang (Yesus) yang berasal dari Nasirah. Dalam nomenklatur Kristen, kita kerap jumpai penyebutan Yesus dari Nazaret. Tafsir ini sangat umum dianut oleh ulama Muslim awal, seperti direkam oleh Tabari (w. 923). Kedua, di kalangan para mufasir belakangan, kata “nashara” dilacak ke akar kata Arab n-sh-r yang berarti “menolong”. Pelakunya disebut “nasir” (bentuk jamaknya, “anshar”). Pelacakan etimologis seperti ini didasarkan pada ayat al-Qur’an (QS. 3:52) yang merekam pernyataan murid-murid Yesus (hawariyyun). Ketika Isa bertanya, “man anshari ila allah?” (Siapa penolongku menuju Allah?). Mereka menjawab, “nahnu anshar allah” (Kami adalah para penolong Allah).

Kedua tafsir di atas dikenal luas dalam kesarjanaan Muslim, walaupun dari segi tata-bahasa Arab sulit dipahami transformasi “nashirah” atau “nashir/anshar” menjadi “nashrani” atau “nashara”. (Mereka yang tahu bahasa Arab pasti mengerti apa yang saya maksud.) Karena itu, untuk memahami siapa “nashara/nashrani” diperlukan penelitian yang lebih mendalam terhadap konteks historis di mana al-Qur’an muncul.

Penelitian historis itu diperlukan bukan hanya karena kita kesulitan melacak asal-usul “nashara” dari bahasa Arab, tetapi juga keyakinan orang-orang nashara berbeda dari umat Kristiani pada umumnya. Al-Qur’an menuduh orang-orang nashara mengakui triteisme (tiga Tuhan), padahal umat Kristiani mengimani Trinitas. Tiga Tuhan yang menjadi keyakinan kaum nashara terdiri dari Allah, Isa dan Maryam, padahal Trinitas itu terdiri dari Bapa, Anak, dan Ruh Kudus. Karena itu, menganggap nashara (kaum Nasrani) sebagai umat Kristiani punya konsekuensi serius. Yakni, al-Qur’an bisa dianggap salah paham terhadap doktrin Kristen. Sebab, doktrin-doktrin yang dinisbatkan kepada kaum nashara berbeda dari keyakinan umat Kristiani. Maka, berhentilah menyebut umat Kristiani sebagai nashara atau kaum Nasrani!

Pertanyaan yang tersisa ialah: Kenapa al-Qur’an menggunakan istilah “nashara”? Apakah istilah itu sudah digunakan sebelum al-Qur’an? Oleh siapa dan kepada siapa? Tentu saja, al-Qur’an tidak menginvensi istilah tersebut dari kevakuman. Istilah nashara sudah digunakan jauh sebelum al-Qur’an muncul ke permukaan sejarah. Kata “nasrani” hanya muncul sekali dalam Perjanjian Baru. Yakni, dalam Kisah Para Rasul (24:5). Ketika Paulus menjadi tertuduh di hadapan Gubernur Romawi, Feliks, penasihat hukum orang-orang Yahudi, Tertulus, menyebut Paulus sebagai “seorang tokoh dari sekte Nasrani”.

Barangkali, maksud pernyataan Tertulus ialah Paulus sebagai pengikut seorang dari Nazaret. Para sarjana masih berdebat soal identitas “sekte Nasrani” itu, walaupun semua sepakat bahwa Tertulus menggunakan istilah tersebut dengan tujuan merendahkan atau menghina Paulus. Dari situ dapat dimegerti kenapa umat Kristiani tidak pernah menyebut diri mereka dengan sebutan “nashara” atau kaum Nasrani.

Kendati literatur Kristen tidak menggunakan nashara melainkan mshihaya atau kristyana, sumber-sumber berbahasa Suriah dan Yunani menyebutkan penggunaan “nasraya” (Arab: nashara) di kalangan non-Kristen, dan terutama di Persia hingga abad ke-5. Para penulis Suriah menggambarkan bahwa orang-orang Pagan Persia dan, bahkan, Suriah sendiri memanggil kaum Kristiani dengan sebutan nasraya. Jelas, istilah itu berkonotasi negatif dan karenanya dihindari oleh para penulis Kristen.

Bagi para penulis Kristen, kaum Kristiani bukan nashara. Pada abad ke-5, St. Epiphanius dari Salamis menulis karya heresiografi penting, Panarion, yang sampai kepada kita sekarang, dan menyebut kaum Nasrani sebagai sekte Yahudi-Kristen kuno yang heretik. Panarion bisa disejajarkan dengan al-Milal wa al-nihal-nya Ibnu Hazm (w. 1064) atau Syahrastani (w. 1153). Epiphanius menyebut sekte-seke Kristen awal, termasuk sekte Nasrani itu, untuk ditolak sebagai tidak merepresentasikan agama Kristen.

Sebagian sarjana modern, seperti Fran├žois de Blois, berargumen bahwa apa yang digambarkan Epiphanius tentang nashara punya kemiripan dengan Kristologi al-Qur’an. Logika lanjutan dari argumen ini, doktrin-doktrin yang dikritik al-Qur’an bukanlah keyakinan kaum Kristiani, melainkan sekte heretik yang juga ditolak keras oleh Kristen sendiri, seperti konsepsi tiga Tuhan itu. Ketika al-Qur’an memasukkan Maryam sebagai satu dari tiga Tuhan, Epiphanius melacak keyakinan seperti itu pada sekte yang berkembang di Arabia antara abad ke-4 dan 5, yang dikenal dengan sebutan sekte Collyridians.

Penjelasan “heretik” ini diterima luas di kalangan sarjana-sarjana modern. Namun demikian, dalam kesarjanaan mutakhir, ada perkembangan cukup signifikan yang mempersoalkan pandangan yang menempatkan Arabia sebagai “the motherland of heretics”. Kajian belakangan cenderung menguatkan hipotesis bahwa Arabia tidaklah sedemikian terisolasi sebagaimana diasumsikan, sehingga tak dapat dipandang sebagai tempat kaum heretik.

Lalu, kenapa al-Qur’an menyebut umat Kristiani sebagai “nashara”? Barangkali retorika al-Qur’an itu menggambarkan iklim polemik di mana al-Qur’an muncul. Pendekatan baru terhadap retorika kritik al-Qur’an ini dapat dibaca dalam buku saya, Polemik Kitab Suci (Gramedia, 2013) atau edisi Inggrisnya Scriptural Polemics (Oxford, 2014).

Perbedaan pendekatan “heretik” dan “retorika polemik” punya implikasi berbeda dalam memahami al-Qur’an. Tapi, kedua pendekatan tersebut bersepakat tentang satu poin: Tidak dibenarkan memanggil umat Kristiani dengan sebutan nashara, karena mereka bukan kaum Nasrani. Agama Kristen bukan sekte heretik dan kita tidak hidup dalam iklim polemik.



 
Share:

Minggu, 02 Desember 2018

212, Tanggal 2 Bulan 12

Sekian ribu massa dimobilisasi untuk berdemo. Dikumpulkan dan diprovokasi untuk menghakimi seseorang yang dianggap bersalah atas penghinaan terhadap agama.

Seorang difitnah, dipojokan, oleh orang Yahudi agar dihukum. Pengadilan Roma yang harusnya bersikap adil tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.
Pontius Pilatus, si Hakim, tahu bahwa Yesus tidak bersalah. Tapi karena desakan massa dan takut posisinya tergeser, memutusnya bersalah dan menghukum mati Yesus.

Umat Kristen (yang sering salah disebut dengan Nasrani) madzab mayor selalu memperingati hari Paska setiap tahun sebagai peristiwa dikriminalisasinya Yesus, diadili, dihukum mati, dan kemudian bangkit dari mati.
Salib yang saat itu merupakan alat pencabut nyawa Yesus kini menjadi lambang Kristen. Saya sempat berspekulasi, seandainya waktu itu Yesus dihukum mati dengan penggal kepala, tali gantungan, atau alat lain, mungkin lambang Kristen bukan salib.

Hari tersebut seharusnya merupakan hari yang menyedihkan dan mengerikan. Karena pada hari tersebut terjadi ketidakadilan, seorang anak manusia diseret dan dibantai secara bengis sebagai korban politik dan nafsu kekuasaan atas nama agama.

Hari tesebut seharusnya menjadi hari menyakitkan untuk diperingati. Karena pada hari tersebut mempertontonkan bahwa pengadilan dapat kalah oleh desakan massa liar yang terprovokasi oleh kaum oportunis.

Tetapi nyatanya hari tersebut selalu diperingati setiap tahun oleh para pengikut Yesus, bukan oleh orang Yahudi, sebagai hari kemenangan.

Menang karena Yesus menyerahkan dirinya secara total pada keputusan pengadilan dan memilih menjalani hukumannya.

Menang karena Yesus telah mengalahkan egonya demi kepentingan yang lebih besar yang kemudian menjadi dasar iman kristiani.

Menang karena Yesus secara jantan menghadapi penghakiman dengan berani tanpa ada kata mundur apalagi kabur.

Menang karena Yesus rela mengorbankan dirinya agar orang-orang yang dicintainya selamat.
Yesus memilih untuk berbesar hati tanpa melakukan agitasi, provokasi kepada para pengikutnya.

Bahkan setelah difitnah dan dihukum mati, menurut iman Kristen, Yesus hidup kembali setelah 3 hari. Hingga hari ini setelah 2000 tahun, ajaran dan pengikut Yesus tetap ada.

Kebenaran akan menemukan jalannya.
Sesuatu yang benar tidak akan bisa dihancurkan oleh manusia.

Salam anget
Share:
Adsense Indonesia

Blog Archive