inspirasi dan seni

Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

BIOGOLD

Bagi pria ketika hubungan seksual, enak itu baru terasa saat mendekati ejakulasi, hingga akhirnya orgasme. Tapi bila Anda minum BIOGOLD, dari pertama kali penetrasi langsung sudah terasa enaknya. Bila Anda mengkonsumsi BIOGOLD sore, rasanya biasa aja. Tapi malamnya dirangsang dikit aja, pasti langsung ereksi. Itu begitu penis masuk vagina, udah langsung enak banget. Tidak perlu menunggu ejakulasi dan tidak cepat keluar. Satu jam bisa 3-4x ejakulasi...!!!

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah

Sejam bisa sampai 3-4 kali..!! 18+ klik gambar bawah
cara mudah orgasme

Senin, 31 Desember 2018

Apa Yang Terjadi Setelah Manusia Mati?



Saya berbicara bersama arwah mencari tahu apa yang terjadi setelah kita mati. Dari penjelasan orang-orang yang meninggal itu, saya berbagi teori tentang apa yang terjadi setelah manusia dikuburkan. Saya tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi ketika kita meninggal. Akan tetapi, saya setidaknya sekarang memiliki gambaran karena sering berbincang dengan orang yang sudah meninggal.
Begini, saya adalah seorang spiritualis. Saya bisa mendengar, melihat dan merasakan keberadaan makhluk halus. Pengalaman ini tidak menakutkan. Kalau dipikir-pikir lebih mirip film Ghost yang diperankan Whoopi Goldberg (ketika dia tidak menipu orang). Anda mungkin menganggapnya aneh, tapi saya merasa biasa-biasa saja dengan semua ini.
Saya pernah berbicara dengan roh laki-laki yang mendatangi saya untuk memberikan saran berpakaian kepada seorang teman bernama Sahar. Dia diminta berbicara di acara memorial laki-laki tersebut di rumahnya. Sahar membawa sepatu modis yang tidak nyaman dipakai. Roh tersebut ingin menegurnya untuk pakai sepatu biasa saja. (Lelaki itu sebenarnya sangat bijaksana, tapi masalah sepatu ini benar-benar mengusik karena dia sering membicarakan perihal  sepatu Sahar semasa hidupnya.)
Tak peduli apa kata orang lain, satu hal yang pasti adalah kita mati setelah meninggal. Siapa pun yang berpandangan berbeda pasti hidup dengan angkuh. Saya tidak bisa bilang saya paham, tapi saya sangat yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagi saya, tidak ada yang namanya kematian. Maksudnya, iya kita mati. Tubuh berhenti berfungsi, dan jiwa meninggalkan tubuh kita. Saya menyadari itu. Namun, bukan jiwa yang berada di dalam tubuh. Tubuh lah yang hidup di dalam jiwa kita. Jadi, jiwa kita akan tetap mengembara meskipun tubuh sudah selesai menjalankan tugasnya di dunia. Kita sangat mudah terjebak dalam pikiran manusiawi ketika memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi seperti yang dikatakan Gertrude Stein: “there is no there there.”
Sebagai spiritualis, tugas saya bukan melacak keberadaan makhluk halus untuk menanyakan apa yang mereka lakukan “di sana.” Saya hanya mengobrol dan membantu mereka. Saya juga sering menjadi perantara antara mereka dan orang yang masih hidup. Mereka sering menunjukkanku bagaimana rasanya ketika meninggal atau masa-masa bahagia mereka. Mengobrol dengan roh sama normalnya seperti kita berbincang dengan manusia biasa. Kadang santai, kadang serius juga. Rasanya seperti mengobrol dengan orang tanpa tubuh. Dengan kata lain, saya melihat dan mendengarkan mereka dengan seluruh diriku, bukan hanya mata dan telinga saja.
Waktu pertama kali menjadi spiritualis, ada perempuan yang mendatangi saya karena dia merasakan kehadiran arwah neneknya di rumah. Dia yakin kalau neneknya ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Saya pergi ke rumah Bunga (sebut saja demikian) dengan penuh semangat, dan memang merasakan kehadiran neneknya (sebut saja Mawar) di sana.
Neneknya ngotot ingin menyampaikan pesan kepada cucunya, dan saya amat terkejut mendengarkan ucapannya. “Ambil uang suamimu sampai habis. Lakukan sekarang!” katanya. Saya awalnya tidak mau memberi tahu Bunga, karena dia sangat menyayangi neneknya dan berharap mendapat pesan menyentuh. Tapi, saya tidak berhak mengubah isi pesan yang diterima, jadi saya memberi tahu Bunga apa adanya. Bunga langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya. Nenek Mawar ternyata terobsesi dengan uang, dan kakeknya menghabiskan uang tabungan mereka untuk berjudi. Mawar tak pernah bisa melupakan ini bahkan setelah meninggal, maka dia mendatangi cucunya hanya untuk menyuruh Bunga mencuri uang suaminya. Dari sini, kita bisa melihat kalau nilai-nilai, gairah, dan segala hal yang melekat pada diri akan terus bersama kita ke manapun kita pergi.
Bila semasa hidup Anda brengsek, setelah mati pun, Anda tetap orang brengsek. Kalau Anda mati penuh rasa bersalah, rasa itu akan mengikuti. Seperti semua pengalaman transformatif, kematian bisa menjadi penebusan dosa atau penyembuhan, tapi ini bukan jaminan. Pikirkan setiap saat Anda merasa bisa mencapai kedamaian, kebebasan, atau bahkan hanya istirahat, tapi Anda tidak bisa merasakannya. Mengambil inisiatif itu tidak gampang, dan Anda harus percaya bahwa Anda berhak menjalankan hidup dengan baik.
Istilah Surga dan Neraka sebagai lokasi fisik yang menawarkan kedamaian dan hukuman materiil hanya merupakan konsep agar mudah dipahami. Tapi menurut saya, tanpa bentuk fisik, ya tidak ada yang namanya tempat. Secara teknis, kita bukannya pergi kemana; dan tanpa patokan mengenai dimana, unsur kapan menjadi sebuah dimensi yang semakin susah diukur. Ini tidak romantis, tidak selalu menyenangkan atau buruk, pokoknya tidak mudah untuk digambarkan. Seperti kehidupan nyata, karena itu memang bagian dari kehidupan, tapi pengalaman kehidupan yang berbeda. Hal ini susah dibicarakan karena sebagai makhluk fisik, kita hanya memiliki bahasa dan konteks pengertian kenyataan fisik. Bahasa adalah hal fisik, yang membuatnya susah untuk menghindari klise ketika membicarakan hal seperti ini. Bila Anda bingung, ingat saja ini: “Kita lebih dari sekedar tubuh kita.”
Saya pernah berbicara dengan banyak sekali orang mati yang menyesal selama hidupnya tidak mengejar mimpi mereka demi menyenangkan orang lain. Yang saya pelajari dari itu adalah bahwa kita harus berhenti mencoba menjadi orang lain. Lakukan apa yang seharusnya Anda lakukan.
Setelah sebuah roh menggugurkan tubuhnya, dia akan memasuki “fase kepompong,” dimana dia terinsulasi, terlindungi, dan aman. Ini sebuah fase yang mengizinkan kita untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru dan melepaskan kehidupan fisik yang baru kita tinggalkan.
Siklus ini rupanya lebih mudah bagi anak-anak, orang yang berdamai dengan spiritualitas kematian, dan mereka yang sudah tahu mereka akan meninggal. Karena tubuh itu tidak ada, maka waktu juga tidak ada, jadi seberapa lama sebuah roh menetap di fase ini tidak penting. Anda akan menetap di situ selama dibutuhkan.
Untuk memahami konsep ‘tidak ada waktu,’ bayangkan seperti Anda sedang bermimpi, Anda bisa tertidur selama 15 menit dan ketika Anda bangun, mungkin Anda merasa sudah tidur berjam-jam. Atau mungkin Anda bisa tidur delapan jam penuh dan ketika  bangun, Anda merasa hanya beberapa menit telah berlalu. Saat Anda tidak berada di dalam tubuh, waktu menjadi hal berbeda karena waktu adalah konsep duniawi.
Masa hidup orang yang sudah mati masing-masing sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Jadi tidak perlu memikirkan seberapa lama sebuah roh berada pada fase ini karena waktu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Saat seseorang memasuki fase kepompong ini, mereka belum dapat berinteraksi, dan orang yang mereka cintai belum dapat merasakan kehadiran mereka. Seperti sebuah perawatan spa untuk roh dengan tulisan “jangan diganggu” di pintu. Roh tersebut bukannya tidak bisa dihubungi, tapi tidak sopan kan bila diganggu.
Setelah sebuah roh meninggalkan fase kepompong, dia akan tetap beresonansi dengan kepribadiannya selama jangka waktu yang tidak diketahui. Orang yang sudah meninggal sering menunggu kehadiran orang-orang terdekat karena alasan cinta atau kesetiaan, tapi saya tidak dapat mengakses rencana perjalanan atau pengalaman mereka. Saya hanya merupakan saluran untuk pesan. Seperti radio batiniah. Tapi saya tahu bahwa pada titik waktu tertentu, sebuah roh akan menjadi penuh hingga memasuki keadaan lengkap, mulai meninggalkan kepribadian mereka, lalu dipenuhi dengan cahaya diri mereka yang hakiki, dan begitu indah.
Berbicara dengan seseorang yang telah berhasil bertransformasi dari kepribadian mereka adalah hal yang indah; seakan-akan arwah itu menjauhi dan mendekatiku sekaligus. Saya tidak melihat cahaya seperti di film, di mana orang yang sudah meninggal berubah menjadi bola cahaya. Tapi energi yang kita wujudkan memang menyerupai cahaya dibanding bentuk lain. Indah bagi saya mengetahui bahwa hidup itu sebenarnya tidak berakhir, tapi terus berubah bentuk selama perjalanan sesudah mati.

Jessica Lanyadoo


Share:

Rabu, 26 Desember 2018

Apakah Yesus Sama dengan Isa??


Satu pertanyaan singkat tersebut memiliki jawaban yang cukup panjang dan perlu kajian yang mendalam. Sama atau tidak, tergantung dari sudut pandang mana Anda melihat.

Benarkah Yesus lahir tanggal 25 Desember?
Tidak ada yang tahu kapan persisnya dia lahir. Kalau tidak ada bukti bahwa Yesus Kristus lahir pada 25 Desember, mengapa Natal dirayakan pada tanggal tersebut? Encyclopedia Britannica mengatakan bahwa para bapak gereja kemungkinan memilih tanggal itu "agar bertepatan dengan perayaan kafir Romawi yang memperingati hari lahir matahari yang tak tertaklukkan”, pada titik balik matahari di musim dingin. Banyak pakar percaya bahwa hal ini dilakukan agar Kekristenan lebih bermakna bagi orang-orang kafir yang menjadi Kristen. Madhzab mayor Kristen memperingati kelahirannya setiap 25 desember, tapi ada juga yang memperingatinya tgl 7 jan atau tgl lain.  Tidak ada masalah soal itu. Karena peringatan natal lebih pada bagian dari budaya dan tradisi saja.

Sudut pandang sejarah.
Sebagai tokoh sejarah, ada seorang anak tukang kayu bernama Yeshua, lahir di Betlehem sekitar tahun 6/5 SM. Beragama Yahudi pada masa pemerintahan kaisar Agustus. Nama diri Yesus berasal dari bentuk Latin nama Yunani Iesous, yang merupakan bentuk Yunani untuk nama Ibrani Yehoshua, dengan variasi Ibrani Yosua atau Yoshua. Sedangkan Isa secara etimologi merupakan hasil bentukan yang disesuaikan lidah penutur bahasa Arab.
Merujuk pada konteks ini, ciri-ciri yang disebutkan Quran dan Alkitab, Yesus dan Isa mempunyai banyak kemiripan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Yesus sama dengan Isa.

Sudut pandang agama.
Mayoritas kristen (ada madzhab kristen yang berpandangan berbeda) mengakui bahwa tokoh bernama Yesus adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia yang lahir tanpa proses pembuahan, anak Maria, mati di salib dan bangkit pada hari ketiga.
Sedangkan Isa dalam islam adalah seorang nabi, anak Maryam, dianugerahi mukjizat oleh Allah, tidak mati di salib, diangkat dari dunia ke langit dan dimuliakan.
Merujuk pada konteks ini, Yesus dan Isa adalah 2 tokoh yang BERBEDA. Yang satunya Tuhan dan satunya nabi. 
Maka tidak perlu ada pertentangan soal ini, karena masing-masing kepercayaan mengimani 2 tokoh berbeda. Yesusmu bukan nabiku dan Isamu bukan tuhanku, karena mereka adalah tokoh berbeda.

Bila demikian, berarti Tuhan tidak Maha Satu dong?
Dengan adanya perbedaan "sesembahan tuhan" mungkin saja memang ada banyak tuhan. Karena masing-masing agama memiliki tuhannya sendiri yang tidak disembah agama lain.
Mungkin juga hanya ada satu tuhan yang benar. Adanya perbedaan "sesembahan tuhan" lebih dikarenakan salah tafsir pada "Firman Tuhan" yang turun temurun pada penganut agama.
Lebih ekstrim lagi, mungkin saja tuhan itu tidak ada, hanya mitos. Yang ada hanyalah alam semesta dengan segala hukumnya tanpa ada tokoh tuhan.

Agama dan mitos
Kisah di luar logika yang diceritakan turun temurun yang tidak Anda saksikan sendiri  adalah dongeng dan mitos. Ketika mitos itu Anda percayai, maka itu disebut keyakinan, hanya yakin tanpa perlu dibuktikan. Lalu ketika keyakinan tersebut terus Anda pegang dan percayai, jadilah iman. Orang-orang yang memiliki iman yang sama, berkumpul berserikat dan memiliki syahadat yang sama menjadi dogma akhirnya terbentuklah kepercayaan atau agama.

Agama yang Anda peluk adalah agama yang paling benar menurut Anda. Setiap agama merasa yakin dirinya yang benar. Lalu kepercayaan mana yang paling benar? Hanya waktu yang akan menjawabnya. 

Agama Nordik yang menyembah Odin dianut banyak bangsa berumur lebih dari 2000 tahun. Toh, akhirnya punah. Pada Abad Pertengahan Akhir semua orang, yang dulunya menyembah Odin, telah berpindah ke agama Kristen, dan hampir tak ada lagi yang menyembah Odin. Bahkan tokoh agama tersebut sekarang menjadi cameo di film Avenger.

Agama Zeus pun memiliki nasib yang sama, kini hanya menjadi mitos tanpa ada yang mengimani. Padahal dulu banyak sekali ummatnya dan kuil-kuil pemujaannya tersebar di berbagai daratan.

Apakah agama Anda yang "berumur muda" ini nantinya akan mengalami hal yang sama? Atau bahkan akan terus abadi? Sekali lagi, hanya waktu yang akan menjawabnya. Anda boleh yakin agama Anda paling benar dan abadi. Tidak masalah. Yang penting adalah agama yang Anda anut ini membuat Anda berbuat baik pada orang lain dan hidup lebih berbahagia.



Salam anget.




Share:

Senin, 03 Desember 2018

Kristen Tidak Sama Dengan Nasrani


Dalam bahasa Arab, kata “nashara” merupakan bentuk jamak dari “nashrani”. Sebutan “umat Nasrani” secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen. Kita sering jumpai ucapan selamat Natal dari sebagian kaum Muslim diawali dengan kalimat “Buat kawan-kawan umat Nasrani”. Bahkan, dalam tulisan teolog Kristen Rinto Pangaribuan, kata “Nasrani” dan “Kristen” digunakan secara bergantian.

Sepanjang sejarah Kristen, umat Kristiani tidak menyebut diri mereka sebagai “nashara” atau kaum Nasrani. Orang-orang Kristen Arab menyebut diri mereka dengan kata “masihiyyun” (pengikut al-Masih) dan karena itu agama Kristen disebut “masihiyyah”. Di kalangan komunitas non-Arab pun istilah “nashara” tidak digunakan untuk menyebut para pengikut Yesus.

Dalam literatur Kristen berbahasa Suriah (Syriac), misalnya, dikenal istilah mshihaya. Yakni, seperti padanan Arabnya, para pengikut al-Masih. Juga, dalam bahasa Yunani lebih dikenal sebutan kristyana, yang berarti pengikut Kristus. Kaum Muslim menggunakan istilah nashara atau nashrani karena al-Qur’an menggunakan kedua kata tersebut. 

Siapakah kaum nashara dalam al-Qur’an? Bolehkah kita memanggil umat Kristiani sekarang dengan sebutan nashara? Sebelum pertanyaan terakhir dijawab “tidak”, kita perlu diskusikan pertanyaan pertama dahulu.


“Nashara/Nashrani” dalam al-Qur’an
Kata “nashara/nashrani” muncul empat belas kali dalam al-Qur’an. Selain itu, Kitab Suci kaum Muslim juga menggunakan istilah “ahlul kitab” sebanyak lima puluh empat kali, yang mencakup di dalamnya umat Kristiani. Dalam satu ayat, umat Kristiani disebut “ahlul injil”. Ketiga istilah tersebut digunakan untuk merujuk pada para pengikut Isa, putera Maryam.

Menarik dicatat, di antara ketiga istilah tersebut, kata “nashara” yang paling sedikit didiskusikan. Padahal, istilah itu sebenarnya yang paling problematik atau, setidaknya, enigmatik. Kaum Muslim sekarang secara taken-for-granted mengira bahwa nashara/nashrani merupakan sebutan yang diterima luas oleh umat Kristiani. Bahkan, mungkin sebagian umat Kristiani sendiri tidak mengetahui bahwa nashara/nashrani adalah sebutan yang bersifat peyoratif.

Sebelum didiskusikan lebih lanjut watak peyoratif istilah nashara, ada baiknya disebutkan terlebih dahulu aspek filologis dan leksikografis dari kata enigmatik itu. Sebenarnya para mufasir Muslim awal tampak kesulitan melacak etimologi kata “nashara”.

Ada dua tafsir yang mereka ajukan. Pertama, melacak kata “nashara” dari sisi geografis, yakni dikaitkan dengan nama daerah di mana Isa dan Maryam tinggal, Nasirah (Nazareth). Dengan demikian, nashara adalah para pengikut seorang (Yesus) yang berasal dari Nasirah. Dalam nomenklatur Kristen, kita kerap jumpai penyebutan Yesus dari Nazaret. Tafsir ini sangat umum dianut oleh ulama Muslim awal, seperti direkam oleh Tabari (w. 923). Kedua, di kalangan para mufasir belakangan, kata “nashara” dilacak ke akar kata Arab n-sh-r yang berarti “menolong”. Pelakunya disebut “nasir” (bentuk jamaknya, “anshar”). Pelacakan etimologis seperti ini didasarkan pada ayat al-Qur’an (QS. 3:52) yang merekam pernyataan murid-murid Yesus (hawariyyun). Ketika Isa bertanya, “man anshari ila allah?” (Siapa penolongku menuju Allah?). Mereka menjawab, “nahnu anshar allah” (Kami adalah para penolong Allah).

Kedua tafsir di atas dikenal luas dalam kesarjanaan Muslim, walaupun dari segi tata-bahasa Arab sulit dipahami transformasi “nashirah” atau “nashir/anshar” menjadi “nashrani” atau “nashara”. (Mereka yang tahu bahasa Arab pasti mengerti apa yang saya maksud.) Karena itu, untuk memahami siapa “nashara/nashrani” diperlukan penelitian yang lebih mendalam terhadap konteks historis di mana al-Qur’an muncul.

Penelitian historis itu diperlukan bukan hanya karena kita kesulitan melacak asal-usul “nashara” dari bahasa Arab, tetapi juga keyakinan orang-orang nashara berbeda dari umat Kristiani pada umumnya. Al-Qur’an menuduh orang-orang nashara mengakui triteisme (tiga Tuhan), padahal umat Kristiani mengimani Trinitas. Tiga Tuhan yang menjadi keyakinan kaum nashara terdiri dari Allah, Isa dan Maryam, padahal Trinitas itu terdiri dari Bapa, Anak, dan Ruh Kudus. Karena itu, menganggap nashara (kaum Nasrani) sebagai umat Kristiani punya konsekuensi serius. Yakni, al-Qur’an bisa dianggap salah paham terhadap doktrin Kristen. Sebab, doktrin-doktrin yang dinisbatkan kepada kaum nashara berbeda dari keyakinan umat Kristiani. Maka, berhentilah menyebut umat Kristiani sebagai nashara atau kaum Nasrani!

Pertanyaan yang tersisa ialah: Kenapa al-Qur’an menggunakan istilah “nashara”? Apakah istilah itu sudah digunakan sebelum al-Qur’an? Oleh siapa dan kepada siapa? Tentu saja, al-Qur’an tidak menginvensi istilah tersebut dari kevakuman. Istilah nashara sudah digunakan jauh sebelum al-Qur’an muncul ke permukaan sejarah. Kata “nasrani” hanya muncul sekali dalam Perjanjian Baru. Yakni, dalam Kisah Para Rasul (24:5). Ketika Paulus menjadi tertuduh di hadapan Gubernur Romawi, Feliks, penasihat hukum orang-orang Yahudi, Tertulus, menyebut Paulus sebagai “seorang tokoh dari sekte Nasrani”.

Barangkali, maksud pernyataan Tertulus ialah Paulus sebagai pengikut seorang dari Nazaret. Para sarjana masih berdebat soal identitas “sekte Nasrani” itu, walaupun semua sepakat bahwa Tertulus menggunakan istilah tersebut dengan tujuan merendahkan atau menghina Paulus. Dari situ dapat dimegerti kenapa umat Kristiani tidak pernah menyebut diri mereka dengan sebutan “nashara” atau kaum Nasrani.

Kendati literatur Kristen tidak menggunakan nashara melainkan mshihaya atau kristyana, sumber-sumber berbahasa Suriah dan Yunani menyebutkan penggunaan “nasraya” (Arab: nashara) di kalangan non-Kristen, dan terutama di Persia hingga abad ke-5. Para penulis Suriah menggambarkan bahwa orang-orang Pagan Persia dan, bahkan, Suriah sendiri memanggil kaum Kristiani dengan sebutan nasraya. Jelas, istilah itu berkonotasi negatif dan karenanya dihindari oleh para penulis Kristen.

Bagi para penulis Kristen, kaum Kristiani bukan nashara. Pada abad ke-5, St. Epiphanius dari Salamis menulis karya heresiografi penting, Panarion, yang sampai kepada kita sekarang, dan menyebut kaum Nasrani sebagai sekte Yahudi-Kristen kuno yang heretik. Panarion bisa disejajarkan dengan al-Milal wa al-nihal-nya Ibnu Hazm (w. 1064) atau Syahrastani (w. 1153). Epiphanius menyebut sekte-seke Kristen awal, termasuk sekte Nasrani itu, untuk ditolak sebagai tidak merepresentasikan agama Kristen.

Sebagian sarjana modern, seperti François de Blois, berargumen bahwa apa yang digambarkan Epiphanius tentang nashara punya kemiripan dengan Kristologi al-Qur’an. Logika lanjutan dari argumen ini, doktrin-doktrin yang dikritik al-Qur’an bukanlah keyakinan kaum Kristiani, melainkan sekte heretik yang juga ditolak keras oleh Kristen sendiri, seperti konsepsi tiga Tuhan itu. Ketika al-Qur’an memasukkan Maryam sebagai satu dari tiga Tuhan, Epiphanius melacak keyakinan seperti itu pada sekte yang berkembang di Arabia antara abad ke-4 dan 5, yang dikenal dengan sebutan sekte Collyridians.

Penjelasan “heretik” ini diterima luas di kalangan sarjana-sarjana modern. Namun demikian, dalam kesarjanaan mutakhir, ada perkembangan cukup signifikan yang mempersoalkan pandangan yang menempatkan Arabia sebagai “the motherland of heretics”. Kajian belakangan cenderung menguatkan hipotesis bahwa Arabia tidaklah sedemikian terisolasi sebagaimana diasumsikan, sehingga tak dapat dipandang sebagai tempat kaum heretik.

Lalu, kenapa al-Qur’an menyebut umat Kristiani sebagai “nashara”? Barangkali retorika al-Qur’an itu menggambarkan iklim polemik di mana al-Qur’an muncul. Pendekatan baru terhadap retorika kritik al-Qur’an ini dapat dibaca dalam buku saya, Polemik Kitab Suci (Gramedia, 2013) atau edisi Inggrisnya Scriptural Polemics (Oxford, 2014).

Perbedaan pendekatan “heretik” dan “retorika polemik” punya implikasi berbeda dalam memahami al-Qur’an. Tapi, kedua pendekatan tersebut bersepakat tentang satu poin: Tidak dibenarkan memanggil umat Kristiani dengan sebutan nashara, karena mereka bukan kaum Nasrani. Agama Kristen bukan sekte heretik dan kita tidak hidup dalam iklim polemik.



 
Share:

Minggu, 02 Desember 2018

212, Tanggal 2 Bulan 12

Sekian ribu massa dimobilisasi untuk berdemo. Dikumpulkan dan diprovokasi untuk menghakimi seseorang yang dianggap bersalah atas penghinaan terhadap agama.

Seorang difitnah, dipojokan, oleh orang Yahudi agar dihukum. Pengadilan Roma yang harusnya bersikap adil tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.
Pontius Pilatus, si Hakim, tahu bahwa Yesus tidak bersalah. Tapi karena desakan massa dan takut posisinya tergeser, memutusnya bersalah dan menghukum mati Yesus.

Umat Kristen (yang sering salah disebut dengan Nasrani) madzab mayor selalu memperingati hari Paska setiap tahun sebagai peristiwa dikriminalisasinya Yesus, diadili, dihukum mati, dan kemudian bangkit dari mati.
Salib yang saat itu merupakan alat pencabut nyawa Yesus kini menjadi lambang Kristen. Saya sempat berspekulasi, seandainya waktu itu Yesus dihukum mati dengan penggal kepala, tali gantungan, atau alat lain, mungkin lambang Kristen bukan salib.

Hari tersebut seharusnya merupakan hari yang menyedihkan dan mengerikan. Karena pada hari tersebut terjadi ketidakadilan, seorang anak manusia diseret dan dibantai secara bengis sebagai korban politik dan nafsu kekuasaan atas nama agama.

Hari tesebut seharusnya menjadi hari menyakitkan untuk diperingati. Karena pada hari tersebut mempertontonkan bahwa pengadilan dapat kalah oleh desakan massa liar yang terprovokasi oleh kaum oportunis.

Tetapi nyatanya hari tersebut selalu diperingati setiap tahun oleh para pengikut Yesus, bukan oleh orang Yahudi, sebagai hari kemenangan.

Menang karena Yesus menyerahkan dirinya secara total pada keputusan pengadilan dan memilih menjalani hukumannya.

Menang karena Yesus telah mengalahkan egonya demi kepentingan yang lebih besar yang kemudian menjadi dasar iman kristiani.

Menang karena Yesus secara jantan menghadapi penghakiman dengan berani tanpa ada kata mundur apalagi kabur.

Menang karena Yesus rela mengorbankan dirinya agar orang-orang yang dicintainya selamat.
Yesus memilih untuk berbesar hati tanpa melakukan agitasi, provokasi kepada para pengikutnya.

Bahkan setelah difitnah dan dihukum mati, menurut iman Kristen, Yesus hidup kembali setelah 3 hari. Hingga hari ini setelah 2000 tahun, ajaran dan pengikut Yesus tetap ada.

Kebenaran akan menemukan jalannya.
Sesuatu yang benar tidak akan bisa dihancurkan oleh manusia.

Salam anget
Share:

Rabu, 21 November 2018

Agama itu Candu


Belatar belakang abuse of power yang terjadi di Gereja Katolik Roma pada abad pertengahan, yang kemudian menjadi salah satu akibat muncul denominasi Protestan oleh Martin Luther, Marx dengan tegas menyatakan untuk berhati-hati dengan agama. Agama adalah candu, bagi kaum proletar itu utopia. Sedangkan bagi kaum borjuis itu menjadi alat kekuasaan. Pada akhirnya yang terjadi adalah dytopia. Pada saat itu Paus sebagai pemimpin agama Katolik Roma sangat berpengaruh pada kerajaan-kerajaan di Eropa. Tentu saja tidak semua Paus yang menjabat bekerja dengan benar. Bahkan tercatat sejarah beberapa Paus korup, melakukan pelecehan seksual, mempunyai gundik, bahkan menjadi penyebab terjadinya Perang Salib demi kepentingan kekuasaan dengan dalih berjihad membela nama Tuhan.

Trauma atas penggunaan agama sebagai alat kekuasaan, para imigran Irlandia dan Inggris dengan keras menolak aturan agama masuk ke dalam konstitusi Amerika. Secara tegas UUD Amerika Serikat memisahkan agama dengan negara. Tetapi negara tetap menjamin kebebasan beragama dan tidak ikut campur mengatur cara warganya beribadah sepanjang tidak mengganggu kebebasan orang lain. Amerika Serikat yang anti komunis justru mengaplikasikan saran Karl Marx tentang pemisahan antara agama dan negara.

Indonesia seharusnya belajar dari sejarah. Sepanjang agama masih "dikelola" oleh negara, Indonesia tidak akan pernah lepas dari religion abuse of power. Agama selalu dijadikan kamuflase untuk memuaskan syahwat politik para elit. Rakyat yang tidak bisa berpikir sehat menjadi korban. Utopia agama dan iming-iming surga neraka membuat mereka tidak bisa berpikir sehat. Percuma berbicara slogan "Agama tidak boleh dijadikan alat politik." bila undang-undang tidak dengan tegas memisahkan antara agama dan negara.

Yang selalu menjadi alibi para pendukung perda agama adalah sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Perlu Anda ketahui, sila pertama bukan membahas tentang agama, tapi soal ketuhanan. Tentu saja keduanya memiliki substansi yang sangat jauh berbeda. Saya bilang, pencetus kalimat pancasila benar-benar jenius.

"Agama tidak bisa dipisahkan dari politik"
Tentu saja yang akan terjadi adalah religon abuse of power. Sejarah Gereja Katolik Roma sudah membuktikan, bagaimana akhirnya Kristen yang satu dan besar terpecah menjadi banyak denominasi semata-mata karena penyalahgunaan kekuasaan. Karl Marx, negara-negara Skandinavia, Amerika Serikat dan banyak negara menolak ini.

"Agama sebaiknya dijadikan panduan moral berpolitik."
Itu utopia. Kamuflase dari para elit yang ingin mendulang suara dari para "pecandu agama" dan menggunakan mereka sebagai alat untuk menekan orang-orang yang berpikiran berseberangan.

"Agama dijadikan panduan moral bermasyarakat. Tidak lebih."
Ini lebih realistis. Agama cukup mengatur agar pemeluknya hidup baik dan semoga setelah mati masuk surga mereka. Urusan politik, hukum biarlah menjadi urusan dunia tanpa dicampuri urusan akhirat.

Salam anget

**
Masalah moral masalah akhlak,
biar kami cari sendiri.
Urus saja moralmu,
urus saja akhlakmu.
Peraturan yang sehat yang kami mau.
Tegakkan hukum setegak-tegaknya.
Adil dan tegas tak pandang bulu.
Pasti kuangkat engkau,
menjadi manusia setengah dewa...
- Manusia Setengah Dewa - Iwan Fals



Share:

Senin, 19 November 2018

Inilah Caranya Mengetahui Pernikahan Anda Bahagia atau Tidak


Di era 90-an ada lagu rap yang sangat populer, judulnya "Cewek Matre". Refrennya begitu sering dinyanyikan untuk meledek beberapa oknum kaum hawa tersebut, 
"Cewek matre, cewek matre, ke laut aja..."

Saya setuju bahwa memang ada oknum yang disebut cewek matre tersebut. Perilaku ini ada, saya beberapa kali bertemu mereka dan bisa dipastikan mereka gagal memorotin saya. Bukan karena saya lihai tapi apa juga yang bisa diporotin dari kantong saya :D.

Banyak pria salah mengartikan makna cewek matre. Di lain pihak, banyak pula perempuan nyiyir yang mengatakan bahwa cewek matre itu tidak ada, yang ada hanya cowok kere yang tidak bisa memenuhi kebutuhan perempuan.

Sekali lagi saya bilang, cewek matre itu ada. Benar-benar ada. Cewek matre sesungguhnya adalah perempuan pelacur, menjual dirinya dengan atau tanpa seks dengan dalih cinta sebagai pacar atau istri (biasanya simpanan). Motif perempuan tersebut bukan cinta, melainkan uang, hanya uang dan segala harta yang bisa diambil dari pria.

Berbeda dengan perempuan yang menjadi pacar atau istri (mungkin simpanan) dengan motif cinta. Bila mereka meminta sesuatu pada pasangannya untuk menafkai kehidupan mereka,  saya rasa itu adalah hal yang wajar. Besar atau sedikit itu relatif dan stigma cewek matre tidak layak disematkan pada mereka. Ingat, dasar hubungan tersebut yang utama adalah cinta. Maka tidak tepat bila itu disebut melacur, meskipun (mungkin) mengganggu suami orang.

Jadi wajar sekali bila perempuan menuntut materi pada pasangannya, sangat realistis. Dan hanya pria "tidak mampu" lah yang kemudian mencap pasangannya sebagai cewek matre. Segala keperluan perempuan itu mahal, Bung. Segala lipstik yang kelihatan sampai beha yang tertutup pun memiliki harga yang harus dibeli. Kalau tidak mampu mencukupinya, sebaiknya jauh-jauh deh, cari perempuan yang mau menderita dan diajak hidup susah. Ini soal pilihan dan kemampuan.

Soal bagaimana pria memperlakukan pasangannya sangat mudah diukur. Lihatlah perempuan tersebut. Apakah dia menikahi pria yang tepat atau tidak semuanya akan terlihat jelas dari penamilannya. Bila dia menikahi orang yang tepat, bahkan sampai tua pun dia pasti bisa mempertahankan kecantikannya. Tapi bila salah orang, semuanya malah akan terpuruk.

Wajah perempuan sebelum 30 tahun itu ditentukan oleh keturunan, tapi setelah 30 tahun itu ditentukan dari pernikahan atau  pasangannya. Kalau Anda memiliki pasangan yang pengertian dan tahu bagaimana memperlakukan Anda sebagai perempuan, Anda akan menjadi perempuan yang cantik dan berbahagia.

Cobalah Anda bercermin, bila Anda melihat wajah Anda semakin cantik, berarti Anda bahagia dan menemukan pria yang tepat. Bila Anda semakin terlihat buruk, mungkin saja Anda bertemu pria yang salah. Tapi saya yakin justru mungkin Anda tidak mau merawat diri karena mentang-mentang sudah laku. Lemak menempel disekujur badan dan rambut yang berantakan, bukan karena pria tidak bisa menafkai Anda tapi karena Anda sendiri tidak peduli pada penampilan.

Pernah dengar cerita atau nonton sinetron tentang pria yang selingkuh dengan perempuan cantik? Percayalah, hal tersebut bisa terjadi pada Anda. Hiduplah bersama pria yang tepat, lalu hargai dan rawat diri Anda. Bagi pria, bekerjalah dengan maksimal, karena hidup tidak hanya butuh cinta dan ITU. Hidup juga butuh Victoria Secret dan LV, meski itu imitasi sekalipun.

Salam anget



Share:

“Upline Saya Tidak Berguna”


Ada satu kejadian, member merasa kecewa kepada upline nya. Kecewa karena merasa dicueki, tidak diperhatikan, tidak dibantu. Akibatnya, member tersebut berbalik 180 derajat menjadi pembenci Biogreen dan menjelek-jelekan bisnis ini di media sosial.

Dalam kasus ini kita tidak bisa serta merta menyalahkan upline atau membernya. Bisa jadi upline sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk membantu. Atau upline sudah getol mengajak dan menyapa member, tetapi member sendiri yang cuek.

Pada dasarna bisnis ini adalah bisnis pribadi, bisnis Anda, untuk kepentingan Anda. Tidak usah melihat bagaimana leader, cukup pikirkan kemajuan Anda sendiri beserta member-member di bawah Anda. Itu saja.

Bila Anda butuh bantuan dan ternyata upline cuek, tenang, masih banyak leader-leader lain yang siap membantu. Silakan Anda yang butuh dibantu, lambaikan tangan dan berteriaklah, saya yakin terburuknya pasti ada satu leader di atas Anda yang siap membantu.

Lalu bagaimana bila Anda tidak ada waktu untuk menjalankan Biogreen? Pekerjaan kantor terlalu banyak? Sibuk dengan urusan rumah tangga?
Tidak apa-apa. Jalankan saja pelan-pelan, santai dan tidak usah ngoyo. Yang penting kuncinya “continue”, terus menerus bercerita, sambil nongkrong, sambil makan siang di kantor, sambil ngegosip dengan tetangga juga bisa. Tidak ada target, Anda sendiri yang membuat target atas pencapaian Anda.



Share:

Padamu Pemimpinku

Dia yang terkotor dalam kata.‬
‪Dia yang ternoda atas nama cinta.‬
‪Dia yang terhina tanpa strata.‬
‪Mengambil bentuk bahkan terasa nyata.‬
‪Kerja dan karya, ‬dikoyak dusta.‬

‪Dia yang terkotor dalam kata,‬
‪padamu kami setia.‬
‪Biar kutusuk wajahmu, nanti.‬
‪Biar kukoyak rupamu, pasti.‬
‪Biar kuletak negriku, janji.

Dia yang terkotor dalam kata,
padamu asa terpilih.‬


Salam anget

Share:

Ini Yang Menyebabkan Lion Air Kecelakaan?

Setelah kejadian jatuhnya Lion Air, apakah saya takut untuk naik maskapai tersebut?
Iya.
Begitu pula banyak orang.
Ini juga terlihat dari antrian cek in Lion Air yang tidak seramai biasanya, pagi ini.
Apakah ini berarti saya dan mereka takut mati?
 

Hmm....
Entahlah.

Kawan saya berkata,
"Orang bisa mati kapan saja dan dimana saja."

Betul itu. Bahkan mungkin saat saya menulis ini bisa tiba-tiba mati.
Atau orang yang Anda sayangi pamit berangkat pada suatu pagi, lalu dia tidak kembali lagi,
pergi selamanya.

Saya selalu berkata pada setiap orang yang saya kenal,
kematian itu seperti arisan, datang bergiliran,
yang pada akhirnya akan mendatangi setiap orang.
Anda tidak akan tahu kocokan ini akan muncul nama Anda atau orang lain.

Saya hidup untuk hari ini, dan berpikir bahwa sekaranglah hari terakhir hidup saya.
Agar saya bisa mencintai orang dengan maksimal,
agar saya selalu ingin bersilahturahmi dengan kawan-kawan,
agar saya selalu bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan menyapa orang yang saya kenal.
Kapan lagi kalau bukan hari ini.
Karena bila esok tidak ada, yang tertinggal hanya tangis dan kesedihan.

Salam anget.

**semua orang ingin masuk surga, hidup abadi dan mulia.
Tapi ketika ada antrian menuju ke sana, semuanya berlomba untuk menjadi yang terakhir.....



Share:

Haruskah Indonesia Berdasarkan Syariah Islam?

"Dalam keadaaan genting umat Islam dengan lapang dada mencoret mengganti syariat Islam dengan Ketuhanan yang Maha Esa," ujar KH Syukron Makmun seperti dikutip Gatot Nurmantyo.

Jadi begitu ceritanya ya?
Mengapa hal-hal semacam ini selalu diungkit?
Seakan-akan mau melupakan bahwa Negara Indonesia itu terwujud bukan hasil kerja keras satu pihak saja, melainkan banyak suku, agama, ras dan antar golongan.

Ataukah ada keinginan kembali ke syariah Islam?
Bila demikian bersiap saja perang saudara dan Indonesia dipastikan akan terpecah.

Saat Indonesia terpecah karena perang agama, maka Indonesiamu bukan lagi dari Sabang sampai Merauke.
Indonesiamu cuma tertinggal potongan-potongan daerah yang tak lagi seluas sekarang.


Mau Indonesia seperti timur tengah?
Mau Indonesia seperti Afganistan, Siria?
Mau?


**
Beruntunglah sampai saat ini mayoritas rakyat Indonesia masihlah kaum nasionalis dan pluralis.
Beruntunglah sebagian besar rakyat lebih cinta damai dan toleransi daripada peperangan.
Beruntunglah Indonesia masih memiliki NU sebagai perwujudan Islam yang hangat dan mengayomi.

Entah berapa lama ini akan bertahan.
Suatu ketika "keberuntungan" ini bisa saja habis, dan berakhirlah NKRI bila mayoritas rakyat yang cinta damai ini hanya pasif dan membiarkan kelompok minoritas radikal ini bersuara lantang.

http://wartakota.tribunnews.com/…/video-viral-jenderal-gato…



Share:

Menolak Dengan Alasan Tidak Bisa Bicara?

Dari seberang sana, pada sebuah percakapan telepon,
terdengar seseorang yang berkeluh kesah tentang masalahnya kepada saya.
Saya bertanya apa yang membuatnya ingin belajar dan mau berbisnis dengan saya.
Ia menjawab betapa sengsara hidup nya, ekonomi, keluarga, sampai urusan ranjang. Hampir 1 jam dia bercerita.
Apapun itu dia bersedia melakukan, asal halal, begitu katanya.

Anehnya setelah saya giliran berbicara 10 menit menunjukin apa yang saya kerjakan,
setengah jam berikutnya dia bercerita meyakinkan saya betapa dia tidak suka dan tidak bisa berbicara.
Saya ternganga mendengar orang sanggup berbicara selama satu setengah jam untuk meyakinkan saya bahwa dia tidak suka dan tidak bisa bicara.

Saya setuju,
dia memang tidak bisa bicara.
Karena kalau bisa bicara, maka dia tidak akan memerlukan 1,5 jam untuk menjelaskan bahwa dia tidak bisa bicara.
Orang yang tidak bisa bicara, berbicara 1,5 jam untuk meyakinkan orang lain bahwa dia tidak bisa bicara??
Ini bukan soal bisa atau tidak bisa.
Ini hanya pilihan apakah Anda mau mengerjakan dan berjuang atau tidak.
Share:

Rabu, 19 September 2018

Inilah MLM Yang Nyusahin, Yaitu Biogreenscience


Banyak orang bila mendengar akronim MLM, pasti langsung antipati. Iya tentu saja karena bisnis ini banyak bisnis tipu-tipu, scam, hanya menguntungkan upline dan menyengsarakan downline. Benarkah demikian?

Benar. Banyak yang demikian, ini terbukti setiap kali OJK selalu merilis secara rutin daftar nama perusahaan MLM yang dianggap bodong. Tidak hanya beberapa, tetapi sampai puluhan dalam sekali rilis. Tetapi orang lupa, bahwa perusahaan MLM yang bagus juga banyak. Bertahun-tahun bertahan dan mensejahterakan membernya.

Saya sendiri orang yang sangat berpengalaman di MLM. Betul, berpengalaman gagal. Berkali-kali masuk MLM dan tidak menghasilkan apa-apa, malahan keluar uang banyak. Sudah berbagai MLM saya ikuti. Semuanya sama saja, hanya menghabiskan uang saya. Diantara semua MLM yang saya ikuti, Biogreen Science adalah yang paling menyusahkan. Mengapa?

Kesamaan dari semua MLM tersebut adalah upline ngotot dan getol mengejar calon member untuk jadi downlinenya. Segala cara dilakukan. Mulut manis dan janji surga semua diucapkan dengan satu tujuan yaitu closing. Bila closing, berarti dia mendapat bonus sponsor yang lumayan. Lalu setelah closing, bye, selamat tinggal downline. Si upline tidak akan segetol dulu saat mengajak untuk jadi member. Jadi semua usaha tersebut semata-mata hanya demi keuntungan si upline.

Biogreen Science ini aneh dan menyusahkan. Mengapa?
Anehnya, member-membernya tidak ngotot untuk closing. Mereka memiliki percaya diri yang tinggi. Oke mereka getol dalam prospecting. Dimana dan kapan saja selalu bercerita tentang Biogreen Science. Tetapi mereka tidak ngotot memaksa orang untuk gabung. Menurut member Biogreen, bila Anda gabung, yang untung banyak ya Anda sendiri, mereka tidak untung-untung banyak. Sebaliknya bila Anda menolak bergabung, justru Anda yang rugi besar karena kehilangan prospek bisnis yang sangat menguntungkan, mereka sama sekali tidak rugi karena Anda tolak.

Menyusahkannya, kalau MLM lain setelah orang bergabung menjadi member biasanya upline nya cuek, terbalik dengan Biogreen Science. Sekali Anda bergabung menjadi keluarga Biogreen Science, maka upline Anda akan terus "menyusahkan" Anda dengan telpon, whatsapp chat, ajakan untuk prospek, ajakan untuk datang pertemuan, ajakan untuk ketemu orang, dan segala cara yang membuat waktu Anda akan selalu penuh dengan kegiatan penting yang berbau Biogreen Science. Dan itu berlangsung selamanya.....
Kapan semua "gangguan" itu behenti? Sampai Anda mengangkat tangan dan berkata pada upline bahwa Anda menyerah dan tidak mau lagi berbisnis di Biogreen Science.!

Bagaimana bila upline Anda orang yang lembek, member baru, dan "klemar-klemer"?
Ooo....jangan dikira Anda akan selamat. Anda tetap akan "disusahkan". Masih ada banyak leader-leader hebat di atasnya yang siap turun ke bawah untuk mendampingi Anda prospek orang sekaligus "menyusahkan" Anda. Lihatlah, betapa "aneh" dan "menyusahkannya" MLM yang satu ini.

Saat Anda mulai bergabung di Biogreen Science, saat itulah para leader  akan mulai "mengganggu" kemalasan dan duduk cantik Anda dengan segala ajakan bermanfaat untuk mengembangkan kepribadian dan menebalkan isi kantong.

Mari kita sukses bersama di Biogreen Science.

Salam anget





Share:

Senin, 10 September 2018

Rating Bintang Berapa Yang Anda Mau?


Semenjak ada alat transportasi online, aktivitas saya di Jakarta dan pinggirannya semakin mudah.
Mau naik mobil, tinggal pesan, dijemput di rumah lalu diantar tepat sampai tujuan.
Mau memburu waktu dan perjalanan jarak dekat, tinggal pesan ojek online.
Sama juga, langsung dijemput dan diantar tepat sampai tujuan.
Mudah sekali bukan.

Para driver online rata-rata berusaha untuk melayani dengan maksimal dan sebaik mungkin.
Kenapa? Salah satu alasannya adalah rating.
Kita sebagai pelanggan mempunyai kuasa untuk menilai kinerja mereka dengan memberikan rating bintang di aplikasi, 1-5.
Kalau puas sekali, bisa Anda beri rating bintang lima. Sebaliknya, bila Anda tidak puas, jempol tinggal menekan bintang 1.
Tentu saja semua rating kita ada efeknya buat driver. Yang mendapatkan rating buruk, bisa kena suspend sehingga berakibat tidak bisa narik lagi.
Kejam ya..

Iya, hidup itu memang kejam, Bro.
Penuh kompetisi. Yang terbaiklah yang bisa bertahan.
Bila Anda seorang karyawan, ada perusahaan yang membantu menilai kinerja Anda dengan segala reward dan punishmentnya.
Bila Anda seorang wiraswasta,  maka klienlah yang memberi penilaian.

Hidup itu barat berlomba lari. Di depan ada garis finish yang berupa target, impian, goal, cita-cita Anda.
Seberapa cepat Anda meraihnya tidak hanya bergantung seberapa cepat Anda berlari.
Faktor yang paling penting adalah seberapa kejam Anda pada diri sendiri,
seberapa keras Anda menghancurkan otot Anda sehingga bisa terbentuk otot baru yang lebih kuat.

Anda bisa saja berlari santai, bekerja di satu tempat nyaman dengan gaji yang pas-pasan sambil menikmati hidup.
Bisa juga Anda menunda berlari cepat ke finish karena tergoda pada hiburan yang menghabiskan waktu sia-sia Anda.
Yang sering tidak kita sadari adalah bahwa di belakang kita ada anjing galak yang mengejar,
yaitu umur.
Semakin lama Anda menunda pencapaian garis finish, semakin habis hidup, semakin tua, semakin kadaluwarsa, dan semakin terlambat Anda meraih mimpi.

Usia 20-30 tahun adalah waktu eksperimen. Anda bisa berganti-ganti pekerjaan yang kira-kira cocok untuk dijalani. Bebas, coba-cobalah. Mau jadi pemusik, pelukis, karyawan, lalu segera ganti profesi bila tidak cocok.

Usia 31-39 tahun adalah waktu memilih dan merintis.
Oke, saya memilih menjadi penulis, maka akan saya habiskan waktu dan usaha agar bisa menjadi penulis profesional.
Baiklah, saya sekarang PNS, maka saya akan bekerja sebaik-baiknya meniti karir di sini.

Usia 41 tahun ke atas adalah usia Anda seharusnya menikmati pilihan Anda.
Saat itulah Anda adalah orang kaya atau miskin, sukses atau tidak sukses.
Akan sangat terlambat bila di usia ini Anda masih bingung menentukan langkah dan pilihan Anda.

Anda harus merating dan membintangi diri sendiri.
Anda harus kejam pada hidup Anda, karena dunia ini kejam dengan kompetisinya.
Ada pisau yang mengancam di belakang, ada anjing galak yang mengejar-ngejar, yaitu umur.
Waktu jalan terus, angka bilangan umur Anda terus bertambah.
Mari kita lari bersama, ngebut untuk mencapai mimpi kita.

Salam anget.


Share:

Kamis, 16 Agustus 2018

11 Alasan Minus 3 : How To Be A Pro Corporate Slave?


How To Be A Pro Corporate Slave
Apakah Anda seorang karyawan? 
Apkakah Anda bekerja pada suatu perusahaan? 
Apakah Anda memiliki rutinitas yang sama setiap hari, bekerja selama weekday lalu kemudian libur saat weekend? 
Apakah Anda mempunyai waktu bekerja berdasarkan shift dengan jadwal yang terus berubah?
Apakah gaji Anda setiap bulan cukup untuk kebutuhan sehari-sehari?

Menjadi karyawan atau wiraswasta seharusnya idealnya adalah pilihan dan soal selera Anda dalam menentukan karir. Tetapi pada kenyataannya, pilihan suatu profesi terjadi karena kondisi dan keterpaksaan. Ada orang yang terpaksa berwiraswasta dengan berjualan nasi goreng karena baru saja diputus hubungan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Sebaliknya ada juga orang yang jenuh menjadi karyawan tetapi tidak berani berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri karena takut kehilangan zona amannya dengan gaji bulanan yang pasti.

How to be a pro corporate "slave"? Bila diterjemahkan secara bebas dengan bahasa yang baik maka akan menjadi seperti ini : Bagaimana menjadi pegawai yang profesional? Ya, mari kita bahas bagaimana caranya sih bisa menjadi 'pegawai sejati'.


Disclaimer : 
**Abaikan terjemahan kata 'slave' karena kata itu berlaku HANYA pada  yang merasa kemampuan dan kinerja Anda tidak dihargai dengan dibayar murah oleh perusahaan.
**abaikan bila Anda senang menjadi budak korporat. Serius. Apalagi bila gajinya besar dan jabatan tinggi. Digaji bulanan, tidsak usah cemas dengan laju ekonomi yang tidak tentu. Serius.

Langsung ke nomor 1

Share:

1. Perusahaan Adalah Pedagang

Apa pun bidang usaha perusahaan tempat Anda bekerja, memiliki satu kesamaan, mereka adalah pedagang yang menjual sesuatu. Apa pun itu, entah benar-benar berbentuk barang atau berbentuk jasa pelayanan, tetap saja ada sesuatu yang dijual. 
Prinsip dasar berdagang adalah untung sebesar mungkin dengan biaya sekecil mungkin. Maka semua keputusan dan kebijakan perusahaan akan mengacu pada prinsip tersebut. Semua usaha akan dimaksimalkan agar laba meningkat setiap bulan dan biasanya ada evaluasi setiap semester. 

Bila Anda ada pada posisi sebagai tenaga penjual, sadarilah kenyataan ini. Tugas Anda adalah berusaha agar perusahaan menjual sebanyak mungkin sehingga menghasilkan untung maksimal. Tentang insentif yang Anda dapat dari berjualan itu hanya sepersekian persen dari laba perusahaan. Bahkan ada kalanya harga di 'mark up' lebih dahulu dengan tujuan memberi sedikit margin lebih untuk membayar insentif Anda tanpa mengganggu laba.

Bila Anda bagian dari staff pelaksana dengan gaji tetap tanpa insentif, sadarilah bahwa Anda juga termasuk dalam rangkaian siklus ini hanya saja dengan posisi yang tidak dihitung pada arus laba rugi perusahaan. Negatifnya untuk Anda, bila perusahaan untung besar, gaji Anda tidak berubah, sama setiap bulannya. Mungkin kalau Sang Pemilik baik hati, Anda akan mendapatkan bonus sedikit yang sebenarnya merupakan bagian dari amal jariyah perusahaan untuk Anda. Positifnya, bila perusahaan berkurang labanya, Anda tidak terkena imbasnya. Tapi jangan salah, bila perusahaan rugi, Anda tetap akan kena apesnya. Paling bagusnya gaji dibayar telat. Terburuknya, Anda tidak digaji dan Si Owner hilang entah kemana.

Bagaimana? Apakah sudah mulai paham dengan posisi Anda di "Your Beautiful Corporate"? 
Kalau sudah mulai paham, mari kita lanjutkan lagi.

Lanjut ke nomor 2

Share:

2. Perusahaan Adalah Rumah Kedua.


Saya pribadi cenderung melihatnya kadang menjadi rumah pertama. Bagaimana tidak bila hampir sebagian hidup Anda dihabiskan di kantor. Pengalaman saya saat masih menjadi karyawan malahan saya sering menjadikan kantor sebagai tempat menginap karena terlalu malam untuk pulang dan menghindari terlambat datang besoknya. Bahkan saking "cintanya" saya dengan kantor, saya sering mandi dan mencuci pakaian di kantor. Kantor benar-benar menjadi rumah pertama saya waktu itu.

Bagi Anda yang bekerja di Jakarta, Anda harus bangun pagi-pagi buta untuk bersiap berangkat ke kantor. Sedikit saja Anda terlambat, macetnya ibukota akan menghalangi datang tepat waktu. Lalu ditutup dengan pulang sampai larut malam karena lemburan atau karena lagi-lagi bertemu macet. Rata-rata total waktu yang dihabiskan di perjalanan pulang pergi ke kantor bisa 4-5 jam. Kemudian waktu kerja normal sekitar 8-12 jam. Dalam 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, Anda bisa hitung berapa lama waktu Anda di rumah kedua, eh maksudnya rumah pertama, rumah Anda bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Jadi kalau Anda merasa perusahaan tempat Anda kerja itu adalah sebuah "Rumah kedua" setelah keluarga, sebenarnya sah-sah saja.

Perusahaan adalah rumah kedua berarti Anda telah bekerja totalitas dan penuh pengabdian. Luar biasa sekali.
**abaikan semua alasan kepepet tadi ya....

Lanjut ke nomor 3


 

Share:

3. The Real Bos is Your Bos


Anda memang bekerja untuk perusahaan, tetapi bos Anda sesungguhnya ya Si Bos itu, atasan langsung Anda. Penilaian  atas kinerja Anda langsung dilakukan oleh Si Bos itu. Bukan CEO atau Direktur yang langsung turun tangan, bukan juga oleh pemilik perusahaan apalagi oleh pemegang saham. Kan memang itu salah satu tugas Boss anda. So... you must know who is the Boss.

Beruntunglah Anda jika mendapatkan good leader, bos yang mengerti bagaimana memimpin dan mengelola anak buahnya dengan baik. Celakalah Anda jika mendapatkan Boss yang brengsek yang selalu mencari kambing hitam saat dia yang salah atau mengambil 'credits' atas ide dan inovasi Anda sebagai keberhasilanya pribadi. Atau yang memiliki masalah pribadi dengan Anda dan bertekad menyingkirkan Anda. Paling asik kalau punya Bos yang agak bodoh sehingga Anda bisa 'take over' banyak hal dan sedikit memamerkan kejeniusan Anda ke banyak rekan kerja atau atasan bos Anda. Bisa naik jabatan deh.

Lanjut ke nomor 4


Share:

4. Cari Muka, Bro

**baca artikel sebelumnya : 11 Alasan Minus 3 : How To Be A Pro Corporate Slave?

Ini yang sering dilupakan dan menjadi alergi bagi banyak orang, ilmu CARI MUKA. Bila Anda ingin sukses di kantor ya harus cari muka. Cari Muka itu bagian dari lobi. Suka atau tidak, itu harus Anda lakukan. Karena the real bos is Your Boss.

Jangan selalu berpikir negatif soal Cari Muka ini. Logikanya begini, Anda adalah bosnya, memiliki dua anak buah Andi dan Boni. Mereka berada di posisi yang sama dengan prestasi beda tipis lah. Yang membedakan adalah Anda sering nongkrong bareng dengan Boni karena kalian sama-sama hobi mancing. Kira-kira bila Anda perlu menaikan jabatan salah satu dari antaranya, siapa yang akan Anda angkat? Pastilah Boni dong. Selamat, Boni telah berhasil Cari Muka pada Anda.

Sebelum berangkat bekerja, anak bertengkar dengan tetangga soal sampah. Lalu sesampainya di kantor dan lalu bertemu klien, apakah Anda tetap akan membawa kekesalan di rumah atau akan menyulap raut muka menjadi manis agar klien Anda nyaman? Tentu saja akan bersikap ramah pada klien. Sadarilah, Anda sedang melakukan Cari Muka.

Maka selama Anda masih bangsawan, Bangsa Karyawan, jangan segan dan gengsi untuk Cari Muka. Itu bila Anda ingin mendapatkan posisi yang bagus dan aman. Tetapi bila Anda hanya cukup puas menjadi penggembira dan hiasan lampu di pojok kantor, ya tidak perlu Cari Muka.

Lanjut ke nomor 5



Share:
Adsense Indonesia

Blog Archive