Selasa, 26 Desember 2017

Haramkah Mengucapkan Selamat Natal?

Dalam beberapa tahun ini,

semenjak reformasi yang menurut saya kebablasan,
setiap desember selalu berulang masalah yang sama,
pro kontra ucapan selamat natal.
Ini sebenarnya membosankan dan menyebalkan.
Saya biasanya masa bodoh, tapi kali ini saya akan membahasnya.

Semua orang yang beragama katolik dan protestan yang saya kenal, 
100 % tidak ada yang peduli apakah orang yang beragama berbeda mau mengucapkan natal atau tidak.
Tidak penting, tidak masalah.
Kalau diucapkan, ya terima kasih.
Kalau tidak mengucapkan pun yo rapopo.

Lalu kenapa jadi masalah?
Masalah muncul karena ada oknum minoritas yang beragama Islam menggemborkan dan membesarkan ini.

"Maaf, saya tidak bisa mengucapkan selamat natal karena tidak sesuai dengan akidah agama saya."
"Maaf, haram bagi saya untuk mengucapkan selamat natal, tapi saya tetap menghargai agama lain."
Menurut Anda kalimat-kalimat tersebut enak didengar?

"Maaf, saya tidak bisa mengucapkan selamat lebaran karena saya tidak percaya sama nabimu."
Hanya orang tulul yang berkata bahwa kalimat tersebut baik.

Sama halnya dengan kalimat lugas macam ini,
"Maaf, saya tidak bisa mengucapkan hari raya agamamu karena agamamu palsu dan agama saya yang pasti masuk surga."

Bandingkan bila suatu ketika teman anak Anda ngomong macam ini,
"Maaf ya bukan gw ga mau bergaul sama lu, 
papi gw pesen bahwa orang kaya ga bisa gaul sama orang miskin. Tapi gw tetap menghormatimu sebagai teman kok."

Orang yang pincang, tahu bahwa kakinya berbeda, dan itu terlihat.
Orang yang terlahir sebagai orang afrika, tahu bahwa dirinya hitam.
Anak yang berangking buncit di kelas,
tahu bahwa dia tidak sepandai teman-teman di kelas.

Tidak ada masalah dengan perbedaan.
Dia tahu dirinya berbeda, orang lain pun tahu bahwa mereka berbeda.
Sekali lagi tidak ada yang salah dengan itu.

Tapi....
Semua akan menjadi masalah ketika hal berbeda tersebut dipakai sebagai ujaran bermakna peyoratif.
Saya tahu bahwa saya tidak pintar,
tapi akan tidak enak bila orang memanggil saya "bodoh".

Anda punya kaki pincang, senang kalau setiap kali orang panggil Anda pincang?
Tanyalah ke orang negro, nyamankah mereka dipanggil "niger"?
Iya...saya tahu tidak bisa masuk ke sebuah klub elite karena saya miskin, semua orang tahu itu,
dan jadi tidak nyaman ketika mereka, orang-orang kaya itu, meskipun dengan cara manis dan sopan,
selalu mengulang-ulang kalimat yang sama,
"Maaf ya, kami ga berniat menghina, tapi kamu ga bisa masuk klub kami karena kamu miskin.
Maaf ya..."


Orang-orang yang mengucapkan kalimat macam itu sangat perlu belajar humaniora, sopan santun, dan ADAT KETIMURAN YANG ASLI bukan ADAT IMPOR yang diaku sebagai adat timur.

Sialnya oknum-oknum provokator selalu menghembuskan seolah-olah orang Katholik atau Protestan menuntut diucapkan natal sebagai simbol toleransi.

Disintegrasi terjadi bukan karena perbedaan.
Perpecahan diawali dan akhirnya menghancurkan karena ujaran-ujaran peyoratif yang dipolitisir dan terus diulang-ulang.
Pincang, negro, cina lu, dasar miskin, orang tolol, kafir, jangan gaul sama orang jawa, komunis kau, dasar jelek, pesek lu, hitam kau....!!

**
Ucapkan hari raya agama lain bila Anda pikir itu boleh dan layak.
Dan tidak usah ucapkan bila itu tidak sesuai dengan akidahmu tanpa perlu gembar gembor agar kelakuan Anda dimengerti orang beragama lain.

Salam anget


0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi mampir ke blog saya.
Silakan meninggalkan komentar Anda di bawah ini.

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More