Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Sabtu, 13 Februari 2016

"Islamic Valentine Day"

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari "agama" lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entitas, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan "islamisasi", "dakwah Islam", "syiar Islam", bahkan perintisan pembentukan "Negara Islam Indonesia" – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakikat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikraha fid-din. Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk mengkamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir, ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam. Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan "Gosip Islami", "Lokalisasi Pelacuran Islami", "Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah" atau pertandingan volley ball wanita Muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai Hari Valentine Islami…

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal…

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: "…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa….".Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?" Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun… "Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?"

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: "Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?" Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: "Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah… tapi kalau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram…?"

- Emha Ainun Najib -

Rabu, 03 Februari 2016

Cara Gereja Katholik Mengakali Perceraian

Salah satu agama yang melarang adanya perceraian adalah agama Katholik. Ketika pernikahan terjadi secara Katholik, artinya kontrak seumur hidup hanya dengan satu orang sampai salah satunya mati.
Secara administrasi pun sangat teratur dan ketat. Bila Anda sekarang menikah secara Katholik di Singaparna misalnya, maka mau ke Timbuktu sekalipun tidak ada pastur yang bisa/mau menikahkan, karena status pernikahan Anda yang lalu tercatat dan berlaku di seluruh dunia.

Tidak ada kata CERAI di Katholik. Mau bagaimana juga kondisi rumah tangga Anda, bahagia atau menderita, tidak ada kata CERAI.
Tapi ada satu mekanisme yang "mengakalinya", yaitu pembatalan pernikahan.
Dua orang yang dinyatakan sah menikah secara Katholik, dapat dicari celah untuk dibatalkan pernikahannya dan dinyatakan tidak pernah terjadi.

"Apa yang disatukan Allah, tidak bisa diceraikan oleh manusia."
Iya, itu benar, dan diterapkan dalam gereja Katholik. Tapi para ulamanya membuat celah dari petikan ayat injil tersebut, dan ditemukanlah kata padanan yang berbeda tapi punya akibat sama, DIBATALKAN.

Suatu aturan dibuat untuk dilaksanakan dan sekaligus dicari celahnya.
Mengapa pula membuat aturan tidak boleh bercerai tapi boleh dibatalkan?
Aturan yang, konon, berasal dari Allah sendiri, telah dikangkangi oleh ambisi dan kelihaian manusia.
Pemuka agama Katholik melarang keras perceraian, tapi mencarikan celah lain untuk bercerai, yaitu dengan dibatalkannya pernikahan yang telah terjadi.
Lalu ketika suatu pernikahan dibatalkan dan dianggap tidak pernah terjadi, bagaimana nasib anak hasil hubungan "haram" itu?
bagaimana perasaan para saksi yang merasa melihat suatu pernikahan terjadi?
Paradoks, standar ganda.

"Mendingan gak usah sok nglarang cerai deh, kalo cuma untuk diakali dan ganti nama jadi pembatalan nikah..."
Dan bila wacana ini dilempar ke para ulama, maka jawaban yang muncul,
"Sana belajar agama lagi..."
"Bukan begitu sebenarnya, tapi bla bla bla..."
"Coba lihat secara obyektif..."
Bila dua orang menikah secara Katholik, lalu "tidak bersama lagi", maka apa pun penyebutannya, terlah terjadi PERCERAIAN yang "direstui" gereja Katholik.


Saya sangat menghargai hak privat orang lain. Mau Anda menikah atau tidak, itu pilihan Anda.
Mau Anda bertahan dalam pernikahan atau bercerai, itu juga suatu pilihan.
Tapi nyatakanlah itu secara tegas.
"Ya..saya menikah."
"Ya..saya bercerai."
"Ya..Anda sudah menikah dan sekarang bercerai."
"Ya...Anda sudah menikah dan tidak boleh bercerai..."
tanpa ada embel-embel,
"Ya...Anda sudah menikah dan tidak boleh bercerai, tapi bisa dibatalkan lho..."


Pernikahan itu perjuangan seumur hidup.
Saat kita memutuskan untuk menikah, artinya kita harus mau terima konsekuensinya.
Berjuang sampai mati untuk mempertahankannya.
Kalau merasa tidak mampu atau tidak yakin, maka jangan pernah memaksakan diri.
Pernikahan itu seharusnya suci dan penuh pertimbangan dewasa dan bukannya hanya sekedar legalisasi seks dan beranak pinak.


Menikahlah bila Anda ingin atau merasa wajib.
Berpikirlah 2x saat Anda mencintai seseorang.
Berpikirlah 10x saat Anda memilih untuk menikahinya.
Berpikirlah 1000x saat Anda memutuskan untuk bercerai dengan seseorang yang, konon, pernah Anda cintai.




linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More