Rabu, 12 Maret 2014

Tuhan Hanyalah Penonton


Banyak sebutan untuk Tuhan pada setiap kepercayaan.Berbagai konsep tentang Sang Maha pun diuraikan.
Salah satunya adalah soal takdir.

Mayoritas penganut theis berpandangan bahwa Tuhan yang menentukan takdir manusia, menentukan apa yang terjadi pada manusia,
semuanya sudah digariskan, semuanya sudah ditentukan.
Kelahiran, jodoh, rejeki, kehidupan, kematian, semua sudah diatur.
Manusia hanya tinggal menjalaninya.
Mungkin itu benar, berdasarkan ajaran yang dianutnya.
Yang jelas, tidak ada satu manusia hidup yang pernah bertemu secara fisik dengan Tuhan, saat ini.

Secara subyektif saya berpandangan secara berbeda.
Tuhan bagi saya hanyalah penyelenggara.
Kelahiran dan kematian, Tuhan lah yang menentukan. Karena kita tidak bisa memilih kapan, dimana, dan jadi siapa saat kita lahir.
Selebihnya, Tuhan adalah "penonton" pada drama kehidupan manusia.

Jodoh, Tuhan menyediakan jodoh untuk kita. Mendapat jodoh atau tidak, tergantung seberapa besar usaha untuk mendapatkan.
Rejeki, Tuhan menyediakan ladang untuk kita petik. Besarnya rejeki tergantung seberapa pintar dan kemauan kita untuk memanennya.

Pada suatu pertandingan bola, masing-masing tim berdoa untuk kemenangannya. Siapa yang Tuhan bela?
Tak satu pun.
Tuhan hanya menonton.
Kemenangan ditentukan oleh banyak variabel dan seberapa besar kemampuan tim tersebut. Yang menang adalah tim dengan kemampuan paling bagus yang didapat dari hasil latihan, atau pun bahkan dengan kecurangan yang juga merupakan bagian dari "usaha".

Mukjijat, suatu "sumber daya" yang Tuhan sediakan bagi yang mau menggalinya. Tidak serta merta datang hanya dengan meminta.
Bagaikan cheat yang disediakan dalam video game, didapat bila pemain berusaha mempelajari atau mencari bocoran cheat tersebut.

Karena bila Tuhanlah Sang Penentu kisah hidup manusia,
maka patahlah dalil bahwa Dialah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Bilah Tuhanlah Sang Pengatur jalannya nasib manusia,
maka Dia tak lebih hanyalah seorang diktator yang mempermainkan hidup manusia.

Tuhan tak lebih hanya sebagai "Sang Penonton".
(LBP)

Salam anget


*Terlahir miskin itu takdir. Mati miskin itu pilihan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi mampir ke blog saya.
Silakan meninggalkan komentar Anda di bawah ini.

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More