Porno dan Bugil 18+ Jangan diklik..!!

Jumat, 07 Juni 2013

MENOLAK KHILAFAH

Atas berkat rahhmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur maka bangsa indonesia merdeka dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila. Adalah anugrah sangat besar dari Allah Ta'ala yang harus disyukuri oleh segenap lapisan rakyat Indonesia dengan cara menjaga dan melestarikan Pancasila dan negara kesatuan Republik Indonesia, serta mengisinya dengan kebaikan kebaikan dan haram hukumnya bila mengkufuri.

Namun dalam perjalanannya Pancasila dan negara kesatuan Republik Indonesia beberapa kali berusaha digoyang dan diganti, simak saja bagaimanakah sejarah pemberontakan PKI di madiun yang dipimpin oleh Muso, pemberontakan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI / TII) pimpinan Kartosuwiryo yang ingin merubah negara Pancasila menjadi negara Islam, lalu terjadi pemberontakan lagi oleh PKI yang berpuncak pada tahun 1965 yang dipimpinn oleh D.N. Aidit.

Tetapi Allah maha besar, Alloh Ta'ala yang telah menganugerahkan dan mentakdirkan Pancasila dan negara kesatuan Republik Indonesia, dan kekuasaan Alloh Ta'ala pula yang menjaga dan membentenginya. Walhasil segala upaya untuk merongrong Pancasila yang selalu berujung pada bughot (pemberontakan) selalu gagal dan hancur karena perbuatannya sendiri.

Marilah kita belajar dari pengalaman sejarah dan mengambil hikmah darinya, karena Alloh Ta'ala telah berfirman dalam Al Qur-an : "Maka perhatikanlah / pikirkanlah akan apa apa yang terjadi di langit dan di bumi." (QS. Yunus 101).
"Dan barang siapa yang di datangkan hikmah maka sungguh mendapat kebaikan yang banyak." (QS. Al Baqoroh 269).
Bersabda Rosululloh SAW: "Hikmah itu tuntunan bagi orang mukmin".(Al Hadits).

Dan patut di sayangkan untuk sebagian orang tidak mau mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa masa lampau, karena usaha merongrong Pancasila dan NKRI masih saja berlanjut hingga sekarang, yaitu adanya kelompok kelompok tertentu yang ingin merubah asas Pancasila di ganti dengan asas syariat Islam dan ingin merubah NKRI di ganti dengan sistim khilafah dimana umat Islam di seluruh dunia menjadi satu negara di bawah kepemimpinan seorang Kholifah.

Adapun kelompok kelompok tertentu yang memperjuangkan asas syariat Islam dan sistim khilafah itu dalam usaha meyebarkan ideologi ideologi mereka sering kali mempergunakan dalil dalil Al Qur-an dan Hadits Nabi. Oleh sebab itu kita harus membantah dan menyanggah argumentasi argumentasi mereka dengan dasar dasar ayat Al Qur-an dan Hadits Nabi pula.

Mungkin sebagian dari kita timbul pertanyaan, antara yang pro khilafah dengan kontra khilafah kalau sama sama menggunakan argumentasi ayat Al Qur-an dan Hadits Nabi, mungkinkah antara ayat satu dengan ayat yang lainnya saling bertentangan atau antara hadits satu dengan hadits yang lain paling bertentangan? Sebenarnya antara ayat ayat tersebut tidak saling bertentangan, hal ini disebabkan karena salah meletakan dalilnya atau karena salah dalam memahami maksud ayatnya.

Al Qur-an tidak pernah menerangkan dan menganjurkan sistem kenegaraan yang disebut khilafah, sistem ini tidak ada dalam Al Qur-an. Negara yang disebut dalam Al Qur-an ada dua yaitu : 1. Negara Thoyyibah. 2. Negara Khobitsah.

Negara Thoyyibah adalah negara yang baik dan negara Khobitsah adalah negara yang buruk. Dalam surat Al A'rof ayat 58 disebutkan : "Wal baladut thoyyibu yakhruju nabatahu biidznihi robbihi walladzi khobutsa la yakhruju illa nakida. Kadzalika nushorriful ayati liqoumin yaskurun"artinya: Dan negara yang baik adalah yang muncul banyak buah buahan denga izin tuhannya. Dan negara yang buruk tidak ada yang keluar kecuali kesengsaraan. Demikianlah kami jelaskan tanda tanda bagi hamba yang bersyukur.

Dan sistim untuk bisa mencapai negara yang Thoiyyibah menurut Al Qur-an harus dicapai melalui management syukur, sebagaimana dalam surat Saba' ayat 15 :"Wasykuru lahu baldatun thoyyibatun warobbun ghofur" Dan bersyukurlah kepada Alloh, negaramu akan menjadi negara yang baik dan Alloh selalu memberikan ampunanan Nya.

Negara kita indonesia dilihat dari segi konstitusinya sebetulnya sudah sesuai dengan ayat tersebut diatas, terbukti dengan adanya pembukaan UUD 45 alenia ke 3 disebutkan : "Atas berkat Rohmat Alloh yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya".

Berdasarkan alenia ini kita tahu bahwa bangsa indonesia adalah bangsa yang bersyukur kepada Alloh S.W.T.

Demikian juga kalau dilihat dari sila yang pertama dari pancasila yaitu : ketuhanan yang maha esa, kita faham bahwa negara kita adalah negara yang berdasarkan tauhid, artinya imam kepada Alloh dan hari akhir.

Jadi sesuai dengan do'a nabi Ibrohim dalam surat al Baqoroh ayat 126, yang artinya : "Ketika berdoa Ibrohim, ya Alloh jadikan negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berilah rizqi berupa buah buahan kepada warganya, yaitu yang beriman kepada Alloh dan hari akhir".

Demikian juga sila sila seterusnya didalam pembukaan UUD 45, kalau kita teliti dan kita kaji semuanya tidak ada yang bertentangan dengan Al Qur-an dan Hadits, semuanya sesuai dengan Islam. Para pendiri negara kita adalah ulama' ulama' Islam yang jempolan, hebat. Mereka bukan orang yang bodoh. KH. Wachid Hasyim, KH. Agus Salim, KH. Abdul Qohar Mudzakir dll, bukanlah ulama' sembarangan. Sudah mereka pertimbangkan masak masak mana yang terbaik buat bangsa kita.

Mengenai sistim negara khilafah yang di dengung dengungkan oleh kelompok umat Islam garis keras sebetulnya faham tersebut banyak yang bertentangan dengan Al Qur-an dan Hadits.

Pertama, sistim tersebut tidak pernah ada adalah sistim syukur. Kedua, mereka berusaha menghapus negara kebangsaan. Bahwa Al Qur-an mengatakan bahwa Alloh menciptakan manusia terdiri atas bangsa bangsa dan suku suku untuk saling kenal mengenal, menghargai satu sama lain juga menghargai hak haknya sebagai bangsa.(lihat dalam surat hujurot ayat 13)

Yang ketiga, mereka berusaha menghilangkan sistim demokrasi. Kata mereka sistim demokrasi adalah sistim orang kafir. Padahal sistim demokrasi muncul dari musyawaroh. Dan musyawaroh di perintah dalam Al Qur-an dalam surat Syuro 38 di sebutkan " Wa am ruhum syuro bainahum" ( Dan menghadapi perkaramu hendaklah kamu bermusyawarah diantara kalian ),

Ingat dalam sejarah, ketika Rosul wafat, beliau tidak mewasiatkan penggantinya. Maka berkumpullah para sahabat muhajirin dan anshor untuk bermusyawarah mencari pengganti Nabi. Dalam musyawarah tersebut, kaum muhajirin mengajukan jagonya. Demikian juga kaum anshor juga mengajukan jagonya. Dan akhirnya dalam musyawarah tersebut terpilihlah sahabat Abu Bakar Shiddiq sebagai kholifah pengganti Rosululloh secara demokratis.

Demikian juga dengan terpilihnya Sayyidina Umar bin Khotob, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali bin Abi Tholib, mereka diangkat kholifah melalui pilihan yang demokratis.

Apakah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali yang menyetujui adanya pilihan demokratis ini juga kafir? (Naudzu billah min dzalik).

Jangan jangan mereka itu warisan kaum Khowarij yang mengkafirkan sahabat Utsman, Ali, Abu Musa Al Asy'-ari yang akhirnya membunuh sahabat Ali R.a. Mereka adalah kaum yang mudah mengkafirkan orang yang tidak sefaham.

Apakah kita rela kalau nantinya negara republik Indonesia ini hilang, kemudian diganti dengan imperium tirani yang mereka cita citakan dan mereka kuasai dengan berkedok Islam? Naudzu billah min dzalik.

oleh:
Liling Effendi
 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi mampir ke blog saya.
Silakan meninggalkan komentar Anda di bawah ini.

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More