Porno dan Bugil 18+ Jangan diklik..!!

Rabu, 14 Maret 2012

Minum Wine dan Tipsnya

Saat berwisata kuliner, kadang restoran mewah menjadi salah satu tempat yang dituju. Entah karena memang diundang makan di sebuah restoran mewah ataupun Anda ingin mencoba sendiri.
Nah, wine menjadi pilihan minuman saat menyantap hidangan di restoran mewah ataupun restoran berkonsep fine dining. 

Tips berikut cocok jika menyesap wine menjadi pengalaman pertama kali bagi Anda.

Jenis wine. Wine merupakan minuman beralkohol yang dibuat dari sari anggur jenis Vitis vinifera yang biasanya hanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan. Umumnya, orang mengenal dua jenis wine yaitu red wine (anggur merah) dan white wine (anggur putih).
Nyatanya, jenis wine bermacam-macam, mulai dari red, white, rose, sweet, fortified, dan sparkling. Rose wine kadang disebut juga sebagai pink wine. Sementara sparkling wine mengandung gelembung, misalnya champagne. Dari warna saja seseorang dapat mengetahui jenis wine maupun jenis anggurnya.

Jenis anggur. Jenis anggur untuk red wine terdiri dari Cabernet Sauvignon, Shiraz atau Syrah, Merlot, dan Pinot Noir. Pinot Noir sendiri memiliki aneka jenis seperti Cabernet Franc, Barbera, Dolcetto, Gamay, dan lain-lain.
Sementara untuk jenis anggur white wine antara lain Chardonnay, Riesling, Sauvignon Blanc, Chenin Blanc, dan Semillon. Semillon juga memiliki beberapa jenis seperti Gew├╝rztraminer, Muscat, Viognier, Gruner Veltliner, Pinot Blanc, dan lain-lain.

Wine mahal berarti wine enak? Hal ini merupakan anggapan salah. Sebab, wine berhubungan dengan selera.  Wine sangat tergantung dari lidah, pengalaman, dan preferensi seseorang. “Belum tentu botol seharga 30 juta bisa kita nikmati,” .
Wine adalah menikmati kekompleksitasan rasa dan aromanya. Hal itu berarti adanya keseimbangan antara asam, sepet, pahit, manis, sampai asin. Wine yang baik adalah wine yang seimbang dan mengalami proses pendewasaan. Makin kompleks rasa suatu wine, maka harganya pun semakin mahal.

Menilai wine. Wine dapat dilihat atau dinilai dari warna, aroma, kompleksitas, keseimbangan (balance), dan after taste. Kualitas wine yang menurun dapat dinilai dari perubahan warnanya. Hal yang sama berlaku pula dari aroma dan kompleksitas serta keseimbangan rasa. Sementara after taste merupakan cita rasa yang tertinggal setelah cairan wine diteguk.

Kelompok produsen wine. Sesuai peta produsen wine, wine dibagi menjadi dua kelompok produsen yaitu old wine country dan new wine country. Old wine country merupakan pemain-pemain lama seperti negara Perancis, Italia, Spanyol, Polandia.
Sedangkan new wine country seperti negara Afrika Selatan, California, Kanada, dan Australia. Para pemain baru ini sebenarnya berasal dari pemain-pemain lama. Tiga puluh tahun yang lalu para pemain lama berimigrasi ke negara-negara baru tersebut dan melakukan penyilangan antara bibit anggur dari negara-negara lama dan anggur di negara baru. Sehingga rasa wine menjadi begitu kaya.
Ada pula tropical wine atau wine berasal dari negara-negara tropis. Rasa tropical wine tidak terlalu kompleks. Cenderung kuat di aroma dan lemah di after taste. Negara-negara yang masuk dalam tropical wine adalah Thailand, India, dan Indonesia.

Wine untuk pemula. Sebaiknya mulailah dengan mencoba wine aromatik dan manis. Pilih wine yang ringan dan tidak pekat. Hindari langsung mencoba red wine dengan vintage (usia produksi) yang tua dan pekat. Misalnya untuk white wine, cobalah wine jenis muscat. Untuk red wine bisa mencoba Pinot Noir jenis Dolcetto. Atau, coba saja blend (gabungan) antara Shiraz dan Pinot Noir jenis Dolcetto yang agak manis.
Anda bisa juga mencoba tropical wine. Pilih tropical wine yang manis seperti muscat. Wine jenis ini tidak memiliki kompleksitas rasa yang tinggi. Rasa buah tropis yang dominan namun asam. Aroma buahnya cukup intensif tetapi cenderung hilang saat diminum.
Keuntungannya, jenis wine ini cocok dipadukan dengan makanan Indonesia yang cenderung berempah dan pedas. Memadukan kuliner Indonesia dengan wine tropis sangat mudah, karena wine tropis tidak memiliki after taste yang kuat.

Memilih wine yang cocok untuk makanan. Ada beberapa trik untuk memadukan wine dengan makanan yang akan disantap. Anda bisa saja meminta rekomendasi dari sommelier (ahli wine). Tak perlu malu untuk mengakui bahwa Anda tidak terbiasa meminum wine, sehingga sommelier dapat mencarikan wine yang cocok untuk Anda.
Menurut Eddy, rumus lama dalam memasangkan wine dengan makanan adalah “white goes with white and red goes with red”. Hal ini berarti white wine cocok dengan daging putih, sementara red wine cocok dengan daging merah.
Misalnya untuk steak sapi cocok dengan red wine jenis Shiraz dan Merlot. Sedangkan seafood seperti ikan cocok dengan white wine jenis Chardonnay dan Semillon. Ikan juga cocok dengan Pinot Noir. Sebab, Pinot Noir encer dan kompleksitas rasanya yang elegan, sehingga cocok dengan ikan yang halus dan cenderung terasa polos.
Sedangkan untuk ayam bisa dipadukan dengan white wine jenis Chardonnay dan Sauvignon Blanc. Namun, perlu diingat pemilihan wine bisa berubah tergantung teknik pengolahan maupun saus yang digunakan untuk ayam. Misalnya ayam goreng cocok dengan red wine jenis Shiraz dan Merlot.

Gelas wine. Gelas wine yang baik didesain sedemikian rupa untuk sehingga membuat aroma wine terjebak. Red wine jenis full bodied yang pekat, sebaiknya disajikan pada temperatur 17 derajat celcius. Semakin bidang gelas wine yang dipakai, semakin mudah beradaptasi dengan temparatur. Temperatur ini mempengaruhi dari rasa dan aroma wine, sehingga sebaiknya memakai gelas wine yang tidak terlalu lebar.

Memegang gelas wine. Peganglah gelas wine pada tangkainya. Jika Anda perhatikan, gelas wine memiliki tangkai yang panjang dengan wadah membulat seperti telur. Ada alasan mengapa Anda harus memegang gelas wine pada tangkainya.
Hal ini agar menjaga temperatur dari wine di dalam gelas. Jika Anda memegang langsung pada wadah gelas, suhu tubuh yang disalurkan melalui tangan dapat mengubah temperatur wine.

Putar-putar wine. Setelah wine dituang, lakukan aerasi atau proses memutar wine. Pegang gelas wine ditangkai lalu putar-putar. Jangan takut tumpah, karena gelas wine yang baik akan menahan wine agar tidak keluar dari gelas.
Jika Anda belum terbiasa, letakkan gelas di meja. Lalu usap-usapkan dasar gelas ke meja dengan gerakan melingkar, sampai membuat wine ikut berputar. Aerasi penting untuk melepas aroma yang terjebak di dalam wine. Tak percaya, bandingkan saja aroma wine yang tidak melalui proses airasi dengan wine yang sudah diputar.
Proses aerasi bertujuan untuk memasukkan udara ke molekul cairan wine. Ketika udara masuk, aroma wine yang sebenarnya akan dilepaskan. Lakukan aerasi baik pada red wine maupun white wine.
Saat wine berada di dalam botol, wine berfermentasi lanjutan. Walau fermentasi dalam intensitas rendah karena hanya menerima udara yang terjebak di leher botol. Ketika crocs (tutup botol wine) terbuka dan udara bebas masuk ke dalam botol, wine seakan mulai bernafas.
“Biarkan wine bersentuhan dengan oksigen supaya aroma dan cita rasa dia ‘bangun’,” tutur Eddy.

Nikmati warnanya. Lakukan tilt atau memiringkan gelas wine untuk dapat mengamati warna dari wine. Sebaiknya arahkan ke cahaya atau di latar belakang taplak putih untuk dapat melihat kepekatan warna wine.
Mengamati warna red wine yang merah ke jingga atau merah ke ungu, adalah bagian dari menikmati wine. Sama juga dengan white wine, amati pula warnanya. Warna white wine yang cenderung kekuningan.

Cium aromanya. Sama seperti warna, menikmati wine berarti termasuk menikmati aromanya. Oleh karena itu, setelah proses aerasi, ciumlah aroma wine yang semerbak. Jika berkesempatan mencoba beberapa wine dalam satu waktu, bandingkan aroma setiap wine.
Sensasi aroma white wine maupun red wine pun sangat berbeda. Dari aroma ini, Anda bisa mengetahui apakah wine sudah mengalami fermentasi yang lama atau tidak. Sehingga Anda bisa mengenali apakah wine masih berkualitas baik atau tidak. Misalnya aroma alkohol yang tercium begitu kuat, maka kualitas wine sudah menurun.

Meminum wine. Jangan meminumnya sekali teguk. Sesap sedikit wine lalu bawa cairan ke atas dan bawah lidah. Kemudian tarik sedikit udara dari mulut agar terjadi bubble (gelembung) di bawah lidah. Jadi lakukan seperti menyeruput cairan dan bawa menyebar ke seluruh lidah agar membangkitkan indra perasa lidah.
Bagikan secara merata di lidah untuk mendapatkan konsentrasi penuh dari semua cita rasa wine, mulai dari rasa manis, asam, hingga pahit. Kemudian tahan sebentar di kerongkongan untuk mendapatkan sensasi after taste dari wine.

Minum sendiri atau ramai-ramai? Botol wine yang sudah dibuka dapat kembali ditutup dan dimasukkan ke dalam kulkas untuk menjaga rasa dan aromanya. Namun wine tersebut hanya bisa dinikmati maksimal 3 hari.
Apalagi jika wine dalam botol tersebut tersisa sedikit, maka wine akan semakin cepat berfermentasi. Sebaiknya, jangan sisakan wine di dalam botol. Oleh karena itu, disarankan menikmati wine secara beramai-ramai.

Manfaat wine. Eddy menuturkan beberapa manfaat dari wine. Antara lain meningkatkan daya ingat, membangun kekebalan tubuh dan tulang lebih baik, meningkatkan Kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kolesterol jahat (LDL), dan mengurangi pembentukan gumpalan darah dan radang pembuluh darah.
Selain itu, antioksidan reseveratrol dalam wine mampu menghambat pertumbuhan sel kanker hati dan mengurangi risiko kanker ovarian. Sedangkan kandungan Fenolat dalam wine dapat mengurangi resiko penyakit jantung, serta untuk para pria dapat menghambat pertumbuhan kanker prostat dan sebagai anti aging.

Pantangan minum wine. Walau memiliki sisi manfaat, ada pula pantangan bagi seseorang untuk minum wine. Wanita hamil tidak dianjurkan untuk minum wine. Begitu pula penderita sakit liver, diabetes, alergi, dan asma. Jika Anda sedang mengonsumsi antibiotik, maka disarankan untuk tidak minum wine.






0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi mampir ke blog saya.
Silakan meninggalkan komentar Anda di bawah ini.

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More