Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Minggu, 26 Juni 2011

Galau itu Menular


Menurut KBBI,
galau itu berarti pikiran yang kacau tak keruan.
Karena ada di KBBI maka kosakata itu resmi secara akidah bahasa.
Tapi rupanya bahasa tersebut sekarang jadi bahasa gaul.
Entah siapa yang memulai "menggaulkan" bahasa ini.

Kalau pikiran Anda kacau,
kangen dengan seseorang tapi tidak bisa ketemu,
ribut dengan pasangan,
menghadapi dilema antara beberapa pilihan,
tagihan yang tak kunjung beres,dll.
Itu semua penyebab Galau.
Dan galau selalu menyebabkan "mood" hilang.

Orang yang sedang galau tidak akan pernah sehat pikirannya,
tidak akan pernah bekerja dengan baik.
Parahnya,
Anda bisa galau juga bila rekan di sekitar Anda sedang galau.

Pasti tidak enak kalau Anda tersenyum pada orang tapi dibalas muka masam.
Senyum Anda bisa hilang.
Itulah saat Anda tertular virus Galau.

Pasti tidak enak kalau Anda mengajak seseorang bicara tapi tidak dipedulikan.
Anda pasti malas bicara lagi dengannya.
Itulah saat Anda tertular virus Galau.

Pasti tidak enak kalau Anda sedang membuka akun "social network" Anda tapi yang Anda temukan status-status kegalauan kawan-kawan.
Anda pasti enek.
Itulah saat Anda tertular virus Galau.

Hati-hati terhadap virus ini.
Segala doktrin agama untuk terus ramah pada orang yang tidak ramah,
cukup baik untuk dilakukan.
Itu kalau Anda sanggup melaksanakannya.
Kalau tidak,
sebaiknya jauh-jauh deh,
jauhi orang yang galau,
setidaknya untuk sementara waktu sampai kegalauannya hilang,
daripada "mood" baik Anda rusak gara-gara bertemu orang galau.
Jangan sampai Anda menjadi galau karena tertular.(LBP)

Salam anget.

Makan Kondangan Dimana-mana


Hari ini saya menghadiri tiga pernikahan kawan saya.
Kemarin sabtu dua.
Seminggu yang lalu dua.
Sabtu yang lampau tiga.
Minggu depan pun sudah dijadwalkan, tiga acara pernikahan menunggu saya.
Pertanyaan yang sama selalu ditujukan pada saya,
"Kapan elu nyusul?"
Dan jawaban saya selalu sama,
"Segera..."

Bukan pernikahannya yang akan saya bahas, tetapi makanannya.

Setiap acara pernikahan itu mempunyai kesamaan,
selalu menyediakan jamuan yang luar biasa enak,
disediakan prasmanan,
ambil sendiri, boleh memilih jenis dan jumlah makanan sesuai selera.
Kesamaan yang lain adalah,
saya selalu menemukan tumpukan piring kotor yang banyak berisi makanan sisa,
yang bila dikumpulkan bisa untuk memberi makan satu RW.

Aneh menurut saya.
Kok bisa makanan di tiap piring sisa?
Kan ambilnya sendiri-sendiri sesuai takaran masing-masing.
Harusnya orang sudah menakar kemampuan perutnya.
Atau makanannya tidak enak?
Tidak mungkin tidak enak.
Acara kondangan selalu enak jamuannya.

Hmm..
Kalau begitu, ini pasti kebiasaan buruk.
Banyak dari Anda membiasakan diri tidak menghabiskan makanan,
(Tidak termasuk saya, karena makanan saya selalu habis)
bahkan makanan yang sudah Anda ambil sendiri.

Tidak menghabiskan makanan itu tandanya Anda tidak menghargai nilai makanan.
Dengan cara apa Anda bisa menghargai?
Mungkin Anda perlu merasakan kelaparan seperti masyarakat miskin di negara  dunia ke empat.
Atau perlu mengalami saat Anda begitu miskin sehingga untuk beli beras pun harus berhutang?

Setiap kali saya ingin menghentikan makan sebelum habis,
saya selalu ingat,
bahwa masih ada saudara-saudara saya yang kelaparan.
Bahwa
"cari makan itu susah"

Maka saya pun menghabiskan makanan sampai butir nasi terakhir.
Saya bisa.
Anda pun pasti bisa. (LBP)

Salam kondangan
Salam anget.

Jumat, 17 Juni 2011

Bagaimana Mengetahui Tempat Kerja Anda Menjanjikan atau Tidak

Kadang-kadang muncul keraguan dan kegelisahan dalam diri Anda,
apakah tempat kerja Anda itu bagus atau tidak,
menjanjikan masa depan atau tidak,
tepat atau tidak untuk menjadi sandaran hidup,
apakah Anda harus bertahan atau segera mencari pekerjaan lain.

Ada satu cara untuk mengukurnya.
Tulisan saya ini hanya berlaku untuk kaum bangsawan,
Bangsa Karyawan.
Untuk yang wiraswasta tentu saja tidak berlaku.

Silakan lihat atasan Anda.
Bagaimana kondisi ekonominya.
Berapa banyak asetnya.
Untuk mencapai posisi tersebut butuh berapa lama.
Bagaimana cara dia mencapai posisi itu.

Bila atasan Anda hidupnya biasa saja, kalau tidak mau dibilang pas-pasan,
Anda pun akan mengalami hal yang setidaknya mirip,
seandainya mencapai posisinya.

"Untuk mencapai posisinya, dia butuh waktu bertahun-tahun."
Hal serupa pun mungkin akan Anda alami.

"Atasan saya baru masuk langsung mendapat posisi bagus."
Berpikir lagi untuk bertahan di perusahaan ini. Karena pimpinan ternyata tidak memberikan karier untuk bawahan yang setia yang mengabdi dari nol.
Apalagi bila ini perusahaan keluarga.

"Tapi di posisi saya, gaji pun lumayan besar."
Hmm...saya yakin Anda akan ditawar lebih mahal di perusahaan lain daripada bertahan di perusahaan ini dengan posisi yang itu-itu saja.

"Saya nyaman bekerja di sini."
Kalau itu terserah Anda. Yang penting Anda menikmati pekerjaan Anda.

Segera ambil keputusan.
Umur Anda jalan terus.
Sebelum terlambat dan Anda tidak laku lagi bekerja di tempat lain karena terlalu tua.
Jangan berlama-lama di perusahaan yang tidak menjajikan karir bagus di masa depan.(LBP)

Salam anget

Bagaimana Mengatasi Gaji Yang Kurang Tiap Bulan


Setiap bulan selalu ada saat kepala terasa pening.
Setiap bulan masalah yang sama selalu muncul.
Tagihan masih ada,
kebutuhan belum terpenuhi semua,
tapi gaji sudah habis sebelum datang gaji berikutnya,
tidak ada kata cukup.

Masalahnya cuma satu,
pengeluaran lebih besar daripada gaji/penghasilan.
Bagaimana solusinya?

Solusi pertama,
kurangi pengeluaran dan berhematlah.
Itu namanya : prihatin.
Kalau Anda pilih solusi ini,
saya ucapkan : selamat prihatin.

Solusi kedua,
bukannya menekan pengeluaran
tapi sebaliknya perbesar pemasukan.
Bagaimana caranya?
Tingkatkan kualitas diri Anda,
agar hasil yang Anda capai pun makin besar.
Itu namanya : kreatif.
Selamat kreatif.

"Saya tidak bisa. Tingkat pendidikan dan kemampuan saya terbatas"
Banyak orang yang lebih terbatas dari Anda bisa mempunyai penghasilan yang lebih besar.
Apa bedanya Anda dengan mereka?

"Terang saja, mereka anak orang kaya.."
Kalimat itu sebenarnya membunuh kreativitas dan mengamini kelemahan Anda.
Orang-orang terkaya di dunia tidak berasal dari keluarga kaya.
Kuncinya adalah memaksimalkan potensi diri.

Bila Anda merasa kurang sedangkan ada orang yang berlebih, atau
bila Anda merasa terbatas sedangkan masih ada orang yang mampu,
percayalah,
itu semata-mata karena kebodohan dan kemalasan Anda,
dan jangan mengkambinghitamkan orang lain atas ketidak berdayaan Anda.(LBP)

Salam anget

Rabu, 15 Juni 2011

Gesek Sana, Gesek Sini


Sebelas tahun lalu.....
Saat hampir semua teman saya asyik kuliah,
saya sudah kerja.
Saat hampir semua teman saya masih minta uang ke orang tua,
saya sudah swasembada.
Saat hampir semua teman saya masih ngutang di warung secara tradisional,
saya sudah modern dan pakai kartu kredit.

Membanggakan saat itu,
membuka dompet sambil bergaya memamerkan beberapa lembar kartu utang.
Traktir sana, traktir sini.
Gesek sana, gesek sini.
Terlihat kaya dan berkelas...

Hasilnya...
Alamakkk.....tagihannya saya
dua puluh lima juta.
Angka yang cukup besar sekarang,
apalagi masa itu.
Dengan kelihaian dan kelicikan,
saya berhasil lepas dari jerat hutang.
Suatu hal yang patut disyukuri meski tidak layak untuk dibanggakan.

Memang aneh,
Ngutang kok gaya.
Minjam kok dibanggakan.
Yang lebih miris lagi, banyak orang bangga berhasil ngutang dan kabur.
(Termasuk saya waktu itu).

Silakan berhutang bila memang Anda perlu
dan keadaan mengharuskannya.
Tapi jangan berhutang
bila itu hanya sekedar gaya hidup yang Anda tidak mampu mengikutinya.
Anda tetap orang hebat
dan bahkan lebih hebat
bila tidak berhutang.(LBP)

Salam anget

Selasa, 14 Juni 2011

Apa Bedanya Taat Beragama Islam dengan Memahami Agama Islam?


Oleh: Erianto Anas


Taat dengan memahami berbeda.
Secara gamblang taat biasanya dikonotasikan sebagai rajin melaksanakan ritual keagamaan. Misalnya seorang muslim rajin melakukan sholat, berdoa, puasa, zakat dan seterusnya. Begitu juga dengan rajin membaca Alquran. Dan hal-hal yang besifat seremonial keagamaan lainnya dalam agama Islam.

Semua itu merupakan tindakan zahir. Dan untuk bisa menajdi taat ini dibutuhkan kemauan dan tekad untuk tidak pernah alfa dalam melakukannya. Dan bisanya taat ini dilatihkan leh lingkungan kegamaan seseorang, misalnya oleh orang tua, guru agama dan sejenisnya. Soal apakah tindakan itu disertai dengan sikap dan penghayatan bathin sudah diluar konteks konotasi taat. Karena sikap bathin seseorang tidak ada yang tahu. Dan tidak ada alat ukur yang bisa menjamahnya.

Sedangkan memahami lebih berkonotasi pada pengetahuan. Pada penalaran. Pada wawasan seseorang terhadap agama Islam. Atau dalam istilah lain, memahami lebih berkonotsi pada sisi intelektualitas seseorang terhadap agama Islam. Yang dibutuhkan disini adalah sisi pengetahuan dan penalaran. Bukan lagi dalam bentuk tindakan melakukan ritual keagamaan. Karena yang dibutuhkan adalah kapasitas intelektual, maka untuk memahami Islam tidak harus seseorang memeluk atau meyakini Islam agar dia bisa memahami Islam. Itu sebabnya bisa terjadi seorang Islamis atau Orientalis bisa lebih memahami Islam dari pada umat Islam sendiri.

Sebutlah misalnya tentang sejarah Islam.
Seorang yang begitu rajin melaksanakan sholat dan puasa, bisa jadi sangat awan dengan sejarah di seputar Alquran. Akan tetapi seorang yang jarang sholat, bahkan non muslim sekalipun, bisa menjadi seorang sejarawan Alquran. Karena yang dibutuhkan untuk menjadi ahli sejarah Alquran bukan sholat atau puasa. Tetapi adalah menguasai literatur dan perangkat metodologis untuk melakukan penelitian sejarah. Begitu juga dalam bidang-bidang keislaman lainnya seperti pada Filsafat, Ilmu Kalam, Tasauf, Fiqh dan sebagainya.

Itu sebabnya seorang yang taat beragama bukan identik bahwa dia sekaligus juga memiliki pemahaman akan agama Islam. Begitu juga sebaliknya, seorang yang begitu paham dan sangat berawawasan terhadap Islam, belum tentu juga taat dalam melaksanakan ritual keagamaan. Walaupun juga ada yang memiliki keduanya. Dengan kata lain, keduanya memiliki pendekatan yang berbeda. Taat mesti didekati dengan tindakan fisik. Sedangkan memahami lebih merupakan aktifitas intelektual.

Sumber: Rak buku Erianto Anas




“Lihat-lihat dong kalo mau curhat…”


Saya itu  punya masalah, ingin curhat,
Saya utak-atik ponsel mencari nama teman
yang kira-kira bisa saya ajak diskusi, teman curhat.

Dapat satu nama, saya telpon dia.
Terdengar suara manja dari seberang,
“Leoooo…..tumben kamu telpon…..aku pengen curhaaatt…..”

Jiaaaahhh………………!!!
Niat saya mau curhat, ternyata ketiban apes,
saya harus mendengarkan dia, dua jam pula.
Ingin saya tutup telepon, tapi tidak enak.
Toh dia sedang butuh saya untuk jadi pendengar.
Toh saya adalah pendengar yang baik.
Toh kuping saya sudah tebal karena seringnya mendengar keluh kesah masalah orang.

Jujur, kalau ditanya komentar saya,
mendengarkan  curhat orang itu tidak enak, capek.
Apalagi saat saya sedang tidak ingin “mendengarkan”.
Apalagi saat saya hanya ingin mendengar,
tanpa perlu berkonsentrasi terhadap apa yang saya dengar.

Bila Anda di posisi saya bagaimana?
Tidak nyamankah?
Atau malah biasa saja?
(ini berarti Anda benar-benar pendengar sejati).

Ketika Anda ingin sekali bercerita,
ketika  Anda ingin sekali menumpahkan keluh kesah,
ketika Anda sangat ingin didengarkan orang lain,
cobalah mengerti dan perhatikan,
apakah lawan bicara Anda “siap dan suka mendengarkan” atau tidak.
apakah lawan bicara mau Anda “curhati” atau tidak.
Jangan sampai Anda menjadi “tukang cerita” yang menjengkelkan
dan akhirnya dihindari oleh semua orang. (LBP)

Salam anget.

Saya Tidak Sendiri

Ketika saya dalam masalah,
beban berat dan keputusasaan,
seseorang datang kepada saya
memberikan kata-kata bijak,
semangat dan dukungan,
"Ayo Leo..kau bisa hadapi ini...!!!"

Ketika kedua kalinya saya dalam masalah,
beban berat dan keputusasaan,
tidak ada yg datang pada saya.
Saya bangkit dan mencarinya.
Lalu saya temukan seseorang,
menyemangati dan mendukung saya,
"Ayo Leo..kau tidak sendiri...!!!"

Ketika ketiga kalinya saya dalam masalah,
beban berat dan keputusasaan,
tidak ada yang datang pada saya,
tidak ada seseorang pula
meski saya telah mencari..

Lalu saya temukan saya sendiri,
selalu sendiri dalam masalah,
beban berat dan keputusasaan.
Saya berbisik dalam hati,
"Jangan takut Leo, kau tidak sendiri,
Allah selalu ada untukmu..."

Keempat kalinya saya dalam masalah,
beban berat dan keputusasaan,
saya tersenyum dan berkata,
"Aku tidak sendiri, Dia mencintaiku.."
(LBP)

Selamat hari minggu.
Allah bersama kita.

Salam anget.

Latihan Mengangkat Beban

Kalau melihat kuli di pasar,
mereka lelah bermandi keringat mengangkat beban berkilo-kilo.
Membanting tulang demi bayaran atas hasil kerjanya.
Apakah mereka menyukainya?
Mungkin kalau boleh memilih,
mereka akan lebih memilih pekerjaan yang nyaman di kantor ber- AC.
Artinya (mungkin) mereka tidak menikmatinya....

Bandingkan dengan pria2 berotot di Gymnastic. Mereka lelah bermandi keringat mengangkat beban berat berkilo-kilo.
Tidak ada yang membayar.
Bahkan mereka mengeluarkan uang untuk bisa mengangkat beban.
Mereka menikmatinya.
Kenapa?
Karena mereka memilihnya dengan ikhlas.

Beban hidup,
buat orang yang terpaksa memanggulnya,
adalah sakit.
Tapi buat orang yang rela, dan memilih beban itu,
adalah kenikmatan.
Apapun bila kita lakukan dengan iklas dan pilihan bebas, akan terasa nikmat.

Sekarang dari sudut mana kita memandang beban hidup?
Suatu beban yang harus dan terpaksa kita pikul,
ataukah suatu pilihan "kenikmatan" yang kita piliih dengan sadar dan iklas?

“Kata orang,beban hidup itu berasal dari Tuhan.
Dan biasanya yang berasal dari Tuhan menurut ukuran dunia adalah
yang sakit dan menderita, bukan yang enak-enak kan?”

Lhoo...kata siapa yang dari Tuhan itu sakit dan menderita?
Tidak enak itu kan masalah selera dan perasaan.
Ada orang yang suka ke diskotik, mabuk dan ekstase.
Di sisi lain ada orang yang dalam keadaan doa dan meditasi pun bisa mabuk dan ekstase.

Jadi, berlatihlah mengangkat beban,
belajarlah menyukai dan menikmati hal-hal yang baik.
Dengan demikian, apapun yang berasal dari Tuhan,
seberat apapun beban hidup Anda,
selalu menyenangkan dan bukanlah hal yang menyebabkan sakit dan penderitaan...
(LBP)

Salam anget.

Rabu, 08 Juni 2011

"Gue tusuk lu sampe mampus..!!"

Perbuatan biasanya diawali dengan ucapan.
Perbuatan buruk diawali dengan ucapan buruk.
Banyak tindakan kejahatan di awali dengan kata-kata jahat.

Misalnya,
sebelum orang menusuk,
sempat terlontar kata-kata,
"Gue tusuk lu sampe mampus..!!"
dan kejadian selanjutnya dapat Anda duga.

Bila Anda membiasakan diri mengucapkan hal-hal buruk,
kata-kata makian,
alam bawah sadar Anda akan
merekam ucapan itu
dan nanti atau suatu saat
akan mewujudkannya dalam tindakan buruk pula
sekaligus membentuk pribadi
yang kasar dan tak bersahabat.
Itu menjadi oto-sugesti dalam diri Anda.

Perbuatan baik pun tidak lepas dari pengaruh perkataan baik.

Kata-kata seperti,
"Aku mencintaimu,
aku memaafkanmu.."
bila diucapkan terus menerus,
akan "memaksa" dan mensugesti Anda
untuk mencintai orang yang Anda benci
dan memaafkan orang yang bersalah kepada Anda.   

Perkataan mana yang lebih indah,
"Gue tusuk lu sampe mampus.."
atau,
"Aku mencintaimu sampai mati.."

Biasakan diri Anda untuk mengucapkan kata-kata baik,
maka perbuatan Anda akan menjadi baik.
Biasakan kata-kata indah terucap di mulut Anda,
maka hidup anda akan menjadi indah,
untuk diri sendiri
dan orang lain. (LBP)

Salam anget.

Senin, 06 Juni 2011

Kenapa Memilih Tidak Menikah??

Bahwa ada agama yang tidak mewajibkan pernikahan,
bahkan sebaliknya mewajibkan pemuka agamanya untuk tidak menikah,
tidak perlu kita perdebatkan.

Dengan banyak alasan,
orang memutuskan tidak menikah atau menunda pernikahannya.
Mereka merasa nyaman dengan "kesendiriannya"
tanpa intervensi dari orang lain
dalam hidup.
Saking nyamannya,
malah jadi keterusan,
tahu-tahu umur sudah terlalu  matang
(kalau tidak mau dibilang tua).

Anda belum menikah?
Kenapa?
Trauma dengan pernikahan dan lawan jenis?
Belum siap menikah?
Atau memang tidak mau menikah?

Menikah atau tidak,
tidak membuat diri Anda lebih buruk atau lebih baik.
Pembentukan mutu pribadi tidak didasari oleh status marital seseorang,
melainkan dari cara Anda menyikapi hidup.
Meskipun banyak orang yang menikah bersaksi bahwa hidup mereka jadi "lebih baik" setelah menikah,
itu sama sekali tidak mewakili pribadi Anda.

"Saya takut  menikah, banyak orang gagal dalam pernikahan"
Jangan jadi pengecut dan menjadikan orang lain kambing hitam.
Anda tidak akan pernah tahu baik buruknya pernikahan, atau gagal tidaknya,
bila tidak mencoba.

"Saya trauma dengan lawan jenis.."
Ada orang baik dan buruk.
Tidak semua orang sama, dan jangan coba-coba menyamaratakan tiap orang.
Mencari pasangan hidup sama dengan mengocok dadu.
Tidak selamanya keluar angka yang Anda inginkan.
Bila ingin mendapatkan angka yang tepat, teruslah mencoba,
begitu pula dalam mencari jodoh.

"Saya belum siap menikah"
Jangan coba menikah bila Anda belum siap, itu sama saja bunuh diri.
Tapi kalau Anda tidak menyiapkan diri,
kapan siapnya???

"Saya tidak mau menikah karena tidak ingin"
Silakan bila itu pilihan Anda, selama membuat Anda nyaman.
(Terlepas bahwa ada agama yang mewajibkan penganutnya untuk menikah, tidak kita perdebatkan).

Menikahlah bila Anda siap dan ingin menikah.
Tetaplah tidak menikah, bila itu pilihan Anda dan membuat Anda lebih nyaman. (LBP)

Salam anget

Kenapa Harus Menikah??

Acara pernikahan itu selalu merepotkan dan menghabiskan banyak uang,
tidak saja pasangan yang menikah, tapi juga pihak keluarganya.

Kenapa pula harus menikah,
bila tanpanya pun kebutuhan biologis dan  menghasilkan keturunan dapat terpenuhi dengan biaya kecil?

"Tanpa menikah, kebutuhan biologis saya terpenuhi.
Tanpa menikah, saya bisa mempunyai anak."
Bahwa ada agama yang mewajibkan pernikahan, tidak perlu kita perdebatkan.

Anda sudah menikah?
Itu bagus.
Kenapa pula harus menikah?
Apa alasannya?
Sadarkah Anda
bahwa pernikahan itu adalah "jebakan batman"?
Anda, idealnya, harus hidup dengan satu pasangan, seumur hidup.
Anda yakin tidak akan bosan atau muak?

Komitmen dari pernikahan :
Menikah berarti
"penyerahan diri sepenuhnya" kepada pasangan.
Menikah berarti harus mau menerima pasangan apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Menikah berarti "meninggalkan" keluarga lama Anda,
dan meleburkan diri dengan pasangan, membentuk keluarga baru.
Bukan hanya sekedar pengesahan
hubungan Anda secara hukum dan agama.
Karena Anda mencintai pasangan
dan ingin menjalankan komitmen pernikahan bersamanya,
maka Anda menikah.

"Saya menikah karena terpaksa..."
Keterpaksaan itu mungkin mengurangi "kenikmatan" Anda dalam berumah tangga,
tapi tidak menghalangi Anda untuk menjadi pasangan yang baik.
Keterpaksaan seperti nasi yang sudah menjadi bubur.
Mari kita "bumbui" bubur tersebut agar nikmat disantap.

"Sepertinya terdengar susah.."
Anda tidak akan tahu bila tidak mencobanya, secara benar.

Menikahlah,
karena itu adalah benar pilihan Anda. (LBP)

Salam anget

Sabtu, 04 Juni 2011

Saya Sudah Berubah Lhooo..........

Seratus kali orang bilang,
"Saya cantik."
Dia bukan orang cantik.

Seratus kali orang berkata,
"Saya baik."
Dia tidak sebaik yang dikatakannya.

Seratus kali orang mengaku,
"Saya berubah, saya sudah bertobat."
Dia belum berubah, apalagi bertobat.

Orang yang cantik, jarang menyatakan dirinya cantik.
Cantik itu terjadi karena banyak orang berpendapat bahwa dia cantik.
Orang yang baik diakui oleh masyarakatnya.
Sedangkan orang yang berubah, bertobat, tak perlu pernyataan.

Anda merasa telah berubah menjadi lebih baik?
Itu bagus.
Tak perlu pengumuman.
Tak perlu pengakuan.

Anda berubah untuk diri Anda sendiri.
Bukan untuk menarik simpati orang.
Biar orang lain yang menilai.
Perbuatan baik lebih penting dari pada pernyataan,
"Saya telah berubah, saya bertobat, saya orang baik."
(LBP)

Salam anget.

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More