Kamis, 31 Maret 2011

Telanjang Itu Nikmat

Beberapa kali teman nongkrong saya mengajak jalan, selalu saya tolak.
Mengajak dugem, saya tidak ikut.
Mengajak makan di resto mahal, saya tidak bisa.
Mengajak kumpul-kumpul, saya bilang sibuk.
Dengan berbagai alasan.
Padahal alasan sebenarnya cuma satu, saya tidak "sekaya" dulu,
uang saya tidak sebanyak dulu, dan saya gengsi mengakuinya.
Dimana ditaruh muka saya kalau saatnya bayar, saya tidak ikut patungan?
Di depan mereka saya pakai topeng,
tidak bisa jadi diri sendiri.

Beda cerita ketika saya berkumpul dengan beberapa teman terdekat.
Mereka tahu saya luar dalam dan sehari-hari bersama saya.
Saya tampil apa adanya di depan mereka.
Saya bebas  polos apa adanya,
tanpa ditutupi baju kepura-puraan.

Anda lebih suka "berpakaian" atau "telanjang"?
Tampil dengan segala kepura-puraan dan gengsi atau
tampil apa adanya dengan segala lebih kurang Anda.

Kadang Anda harus tampil rapi, berpakaian necis ketika bertemu orang.
Demi sebuah image karena tuntutan pekerjaan dan status Anda.
Seusai bekerja, Anda buru-buru ingin melepas dasi, menggulung lengan baju Anda atau mencopot anting dan mengganti hak sepatu, demi "ketelanjangan" dan kenyamanan.
Jujur, "berpakaian" itu tidak nyaman.


Tampil apa adanya itu keinginan tiap orang.
Telanjang itu nikmat,
nikmat melakukan apa saja dengan "telanjang",
bebas berekspresi.

Jangan ragu untuk "telanjang",
tapi "berpakaianlah" dengan rapi bila saatnya Anda harus berpakaian.
(LBP)

Salam Anget

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi mampir ke blog saya.
Silakan meninggalkan komentar Anda di bawah ini.

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More