Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Jumat, 04 Juni 2010

Dukungan Amerika Serikat pada Israel

AS telah mem-veto banyak resolusi Dewan Keamanan PBB yang membatasi hegemoni Israel, memasok negara Yahudi tersebut dengan lebih banyak bantuan per penduduknya daripada negara manapun di dunia, mempersenjatainya dengan persenjataan yang terlarang bagi negara lain, dan kelihatannya akan tetap bias terhadap Israel. Cinta buta terhadap Israel didorong bukan berdasarkan jajak pendapat publik di AS, bukan juga berdasarkan pemahaman mendalam warga negaranya, rakyat biasa Amerika, tentang Timur Tengah. Ia adalah manifestasi dari kekuasaan Komite Kemasyarakatan Israel Amerika, lebih dikenal sebagai AIPAC, atau lobi Israel.

Tanpa diketahui oleh orang Arab hampir di manapun, rakyat biasa Amerika tidak tahu banyak tentang Timur Tengah, tentang Palestina, Irak atau Lebanon. Sebelum 11/9, rakyat biasa Amerika tidak tahu banyak tentang wilayah tersebut dan masih belum cukup tahu.

Orang Amerika memilih perwakilan mereka di Kongres dan Senat untuk mewakili suara mereka, dan hanya peduli dengan politik dan kebijakan dalam negeri. Dalam negara demokrasi, tidak seperti halnya kediktatoran di mana setiap orang adalah ahli politik, rakyat menyerahkan urusan politik ke tangan politisi dan meneruskan kehidupan mereka. Ketika memilih seorang presiden, ekonomi menjadi pertimbangan pertama.

Bangsa Arab umumnya, yang memandang AS benar-benar bias menyangkut Israel, tidak dapat memahami kenyataan ini dapat mengindahkan tujuan-tujuan yang mereka percaya benar, akhirnya menyalahkan rakyat Amerika. Untuk menjelaskan kebijakan ganas AS terhadap Israel, bangsa Arab menciptakan konspirasi Amerika dan berbicara tentang keinginan Amerika untuk mengendalikan minyak dan wilayah mereka. Arab akhirnya mengambil pendekatan jalan pintas, menyebut rakyat AS setan besar, sebuah tuduhan yang tidak berdasar.

Apa yang Arab umumnya gagal pahami adalah bahwa pendapat publik di AS tidak berarti apa-apa, tujuan mereka yang benar tidak penting artinya, dan bahwa setiap tindakan dan lobi mereka, jika tidak diarahkan kepada mesin politik AS, tidak akan dapat membawa perubahan apapun. Masyarakat Amerika benar-benar tidak tahu, tidak ingin tahu, dan bahkan kalaupun mereka tahu, sikap mereka akan acuh tak acuh seperti di Eropa. Ini adalah sebuah kesimpulan yang menyedihkan tetapi benar adanya. Negara-negara UE, karena salah satu penyebab adalah kedekatan mereka dengan wilayah tersebut, mengetahui lebih banyak tentang permasalahannya dan biasanya tidak terlalu terpengaruh oleh bias liputan dan pandangan media, tetapi paling hanya memberikan janji belaka. Dukungan Eropa tidak menjelma menjadi dukungan bagi tujuan-tujuan Arab yang benar seperti pelaksanaan Resolusi PBB 242, penarikan mundur pasukan dari daerah pendudukan, dan penghentian kekerasan terhadap Lebanon. Sebuah pendapat publik pro-Arab di AS paling-paling hanya dapat memberikan hasil dan simpati yang sama.

Apa yang dibutuhkan sebenarnya adalah sebuah pemerintah AS yang mendukung berbagai tujuan Arab. Jawabannya dapat ditemukan dalam suatu bentuk yang sama dengan AIPAC, kekuatan di balik kekuasaan Israel. Didirikan pada 1953 sebagai Komite Kemasyarakatan Zionis Amerika, dengan tujuan tertulis untuk melakukan lobi terhadap Kongres AS mengenai isu-isu dan peraturan yang mendukung kepentingan terbaik Israel dan Amerika Serikat, AIPAC, dengan keanggotaan saat ini mencapai 100.000 orang, bertemu secara rutin dengan para anggota Kongres dan melaksanakan berbagai kegiatan di mana mereka dapat membagi pandangannya dengan mereka. Ia menganalisis catatan-catatan pemungutan suara dari perwakilan federal AS dan para senator dengan mempertimbangkan bagaimana mereka memberikan suara bagi peraturan yang berhubungan dengan Israel; ia tak pernah melupakan atau memaafkan; dan ia hanya mendukung para kandidat Kongres yang mendukung Israel. Antara 1978 dan 2000, AIPAC telah menyumbang secara langsung hampir US$35 juta kepada 1.732 kandidat Kongres. Bantuan resmi dari AS ke Israel sejak 1948 telah melampaui US$103 miliar.

Kekuasaan AIPAC diwujudkan dalam dukungan yang diperolehnya bagi Israel di kalangan Kongres dan pemerintahan Gedung Putih sejak 1960-an. Para kandidat Kongres dan mereka yang masih menjabat yang pro-Israel menerima pendanaan kampanye dan publisitas yang positif melalui afiliasi-afiliasi AIPAC yang tak terhitung banyaknya, saluran-saluran organisasi dan media, sementara para politisi yang tidak mendukung kebijakan-kebijakan yang menguntungkan Israel menjadi sasaran untuk digantikan dengan mereka yang pro-Israel. AIPAC tidak pernah melupakan; untuk masuk daftar hitam yang perlu dilakukan seseorang adalah memberikan suara yang tidak mendukung bagi sebuah kebijakan pro-Israel. Dukungannya dalam berbagai kampanye yang berlangsung ketat dapat menentukan hasilnya. Anggota Kongres mengetahui hal ini dan mereka mendengar dan bertindak sesuai alasan tersebut. Masyarakat tidak peduli tentang bagaimana para wakil mereka memberikan suara dalam isu-isu Timur Tengah hanya karena isu-isu tersebut tidak penting bagi mereka dan tidak mempengaruhi hidup keseharian mereka.

Sadar akan kekuasaan AIPAC dan kemampuannya untuk memobilisasi para anggota Kongres, Gedung Putih menarik garis jika tidak perundang-undangan domestik yang penting tidak akan pernah disetujui. Ketika selisihnya ketat, setiap suara anggota Kongres menjadi penting. Ketika seorang presiden AS mempunyai sebuah agenda tentang isu di Timur Tengah, dia tahu bahwa dukungan Kongres dapat diperoleh melalui AIPAC. Ketika seorang presiden mengambil sikap keras terhadap Israel, dia tahu bahwa agenda domestiknya akan menghadapi lebih banyak rintangan daripada yang dia dapat tangani di Kongres. Lebih buruk lagi, pada saat pemilihan kembali datang, dia pasti akan menderita kekalahan jika tidak mendukung Israel. Singkatnya, adalah sebuah bunuh diri politik untuk melawan AIPAC, khususnya bagi pemerintah Gedung Putih yang lemah.

Karena itu, Arab tidak seharusnya terkejut ketika pada 18 Juli Senat secara aklamasi mendukung suatu resolusi tidak mengikat "mengutuk Hamas dan Hisbullah dan negara-negara sponsor mereka dan mendukung hak Israel untuk melakukan pembelaan diri." Menurut mantan Penasihat
Keamanan Nasional pada pemerintahan Carter, Zbigniew Brzezinski, AIPAC boleh dibilang menulis resolusi tersebut.

Kesimpulannya adalah jika Arab menginginkan peluang yang lebih adil dari pemerintah AS mereka harus memiliki lobi yang sama efektif dan kuatnya di Washington, daripada mengandalkan pendapat publik. Pendapat publik di AS adalah tidak relevan – ia tidak pernah berarti, dan itu sudah terjadi sejak dulu.

Sumber : Yusuf Mansur

Konflik Israel - Palestina

Konflik ini dimulai setelah perang dunia kedua. Ketika masyarakat Israel (yahudi) berpikir untuk memiliki negara sendiri (menurut sejarah mereka keluar dari tanah israel setelah perang salib karena dituduh pro-kristen oleh tentara islam, yang kemudian ditinggali oleh orang-orang filistin atau palestine).

Pikiran berbentuk zionisme yang didorong oleh genosida oleh NAZI pada perang dunia kedua. pilihan letak negara itu tentu saja adalah tanah leluhur mereka yang pada saat itu merupakan tanah jajahan inggris. karena secara leluhur mereka memilikinya tapi juga secara religius beberapa tempat keagamaan Yahudi ada disana.

Meskipun tidak secara terbuka, negara-negara barat setuju dan mendukung(alasannya karena sebelum orang palestina tinggal disana, tanah itu adalah milik israel). sebaliknya negara-negara arab berargumen bahwa adalah karena jerman yang melakukan genosida maka tanah jermanlah yang harus disisihkan untuk dijadikan negara yahudi.

Dibalik semua intrik politik dan keuntungan dan kerugian politik, strategis , dll. inggris secara sukarela mundur dari negara dan memberikan siapa saja untuk mengklaimnya. Berhubung israel lebih siap maka mereka lebih dahulu memproklamirkan negara,
Sebaliknya orang-orang palestina yang telah tinggal dan besar di sana tidak mau terima mejadi bagian negara Yahudi (dalam literatur doktrin Islam pemimpin negara harus seorang Muslim), sehingga bangsa Israel kemudian melihat orang palestina sebagai ancaman dalam negeri, begitu juga dengan bangsa palestina yang menganggap Israel sebagai penjajah baru. Hasilnya bisa ditebak, perang dan konflik yang telah berbelit-belit. yang sebenarnya adalah urusan antara dua negara/bangsa menjadi konflik antara agama (Yahudi vs. Islam) belum lagi stabilitas kawasan timur tengah dan ikut campur Amerika dengan kebijakan MINYAK mereka.

Jadi sebenarnya masalah dasarnya tidak ada hubungannya dengan orang palestina itu beragama Islam atau orang israel itu beragama Yahudi, tapi masalahnya adalah tanah dan kekuasaan.

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More