Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Kamis, 28 September 2017

Sang Ketua

Di kelas saya dulu ada seorang anak baik, rajin,
pintar, dan ditunjuk wali kelas kami menjadi ketua kelas.
Selama menjabat sebagai ketua, dia bekerja cukup terampil, sanggup menjadi penyambung lidah kawan-kawannya ke guru.
Seperti misalnya, melobi guru untuk memberikan tenggat waktu tambahan pengumpulan kliping.
Atau dia juga cukup didengar guru saat mengusulkan tempat tujuan karya wisata kami.
Bila ada PR, tanpa disuruh, ketika guru masuk kelas, tugas sudah terkumpul dikoordinasi olehnya.
Tak heran namanya sangat dikenal di sekolah.

Saya dan beberapa anak tukang melanggar di kelas adalah pendukungnya.
Dia aset kami.
Biasanya kalau kami tidak mengerjakan pr, entah bagaimana caranya, dia menutupinya.

Untuk menguasai kelas, maka salah satu caranya adalah memanfaatkan sang ketua.
Urusan jajan di kantin waktu istirahat, tidak usah kuatir, kami buat dia kenyang.
Masalah berkonflik dengan kelas sebelah, kami jadi bekingnya.
Berangkat sekolah, ada yang menjemput,
untuk soal pulang sekolah, saya antar dia dengan sepeda.
Tiap pertandingan basket, nama dia selalu kami teriakan hingga menjadi perhatian kelas lain.
Kurang apa lagi? Tidak heran kalau Sang Ketua makin percaya diri dan berada di pihak kelompok kami.

Yang paling menyebalkan di kelas itu kelompok anak-anak kutu buku dan kelompok cewek-cewek centil. Susah diajak melanggar,
tidak kompak.
Plus mereka pengadu.
Keberadaan mereka mengancam kenakalan kami.

Lalu dibuatlah desas desus, bahwa kelompok kutu buku selama ini selalu mencontek saat ulangan Biologi kemarin dan dapat bocoran soal dari kelas lain.
(Di masa itu lazim seorang guru mata pelajaran tertentu membuat soal ulangan yang sama untuk banyak kelas).
Gosip ini cepat menyebar dan menjadi menjadi viral di banyak kelas. Hampir semua anak mempercayai kelompok kutu buku bisa mendapat nilai bagus karena mencontek.

Kami punya Sang Ketua. Sedikit saja digosok, mulutnya ikut berkoar. Saat class meeting, tercetus dari mulutnya bahwa disinyalir ada beberapa anak yang mencontek dan dapat bocoran soal Biologi. 
Wali kelas kami bertanya mana buktinya telah terjadi percontekan.
"Tidak mungkin, Bu mereka punya nilai tinggi kalau gak nyontek." teriak saya.
Teman sekelompok saya ikut berteriak mendukung kata-kata saya.

"Demi stabilitas dan keamanan kelas, saya sebagai ketua merekomendasikan agar para pecontek ini dipindahkan ke kelas lain pada semester depan." Sang Ketua makin percaya diri, mengarahkan teman-teman lain agar mendukung rekomendasinya.
Dan semester berikutnya, kelompok kutu buku dipindahkan ke kelas lain oleh kepala sekolah.
Tidak perlu bukti, tidak perlu saksi.
Modalnya hanya yakin dan berani bersuara keras.
Inilah kemenangan kami....

Bersuara keras adalah cara,
berani adalah koentji.
Meskipun jumlah kami, anak-anak pelanggar, sedikit, tapi kami berhasil menguasai kelas.
Jadikan satu orang sebagai figur dan idola,
buatkan panggung untuknya,
buat opini,
bersuara keraslah agar opini itu menjadi fakta yang diterima,
lalu singkirkan rival....



linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More