Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Minggu, 16 Juli 2017

Agama Ini Mengajarkan Kebencian?


Eksternal HD saya sudah penuh dengan film-film box office pilihan. Tidak ada ruang kosong lagi.
Kalau ada film bagus yang mau saya isikan, terpaksa harus menghapus film lama.
Tapi tentu saja harus film bagus. Kalau film jelek, saya tidak akan rela menghapus yang lama.
Atau ada pilihan lain, membeli eksternal HD yang baru. Bisa saja.
Suatu wadah yang sudah penuh, tidak akan bisa diisi lagi dengan yang baru,
kecuali menambah wadah yang baru atau membuang isi lama.

Melompat ke topik lain,
ada orang-orang yang rajin melakukan ritual agamanya, rutin beribadah, sering berdoa.
Yang lucu, misalnya, ada orang setelah selesai misa,
di luar gereja bisa bertengkar dengan orang lain bersumpah serapah hanya gara-gara mobilnya tidak bisa keluar parkiran terhalang mobil lain.
Yang aneh, misalnya, ada orang yang rajin shalat lima waktu,
tapi begitu mudahnya berteriak-teriak menghina orang lain yang tidak sealiran dengannya.
Yang miris, misalnya, pemuka agama yang harusnya adalah manusia "sempurna",
tapi tetap melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain,
melanggar hukum,
atau memprovokasi pengikutnya agar membenci orang lain.
Lalu apa gunanya "rajin ibadahnya"?

Yang salah agamanya? Saya yakin tidak.
Yang salah pemahamannya? Bisa jadi demikian.
Salah memahami ajaran agamanya.
Salah menafsirkan kitabnya.
Salah menerapkan kepercayaannya.

Saya yakin Dia adalah cinta. Maha cinta.
Dengan demikian, saya yakin pula bahwa Dia tidak akan mengajarkan sesuatu yang berlawanan dengan cinta.
Bila benar menjalankan ibadah karena Dia,
bila benar memahami ajaran Dia,
bila benar menerapkan kitab Dia,
bila benar menerapkan kepercayaan akan Dia,
maka tidak akan mungkin ada tempat untuk kebencian.
Ini yang saya yakin, mungkin Anda punya prinsip berbeda.


Ketika Anda sudah sangat mencintai seseorang, masikah ada ruang di hati untuk membencinya?
Bisa saja, dengan membuang cinta lama, lalu menggantinya cemburu dan sakit hati.
Lalu apakah saya mau "mendelete film bagus" demi ada ruang untuk "film buruk"?
Masikah ada ruang dalam hati untuk membenci orang lain bila sudah penuh akan cinta pada Dia?
Apakah Anda mau membiarkan hal baik dalam hati karena Dia, dihapus demi sesuatu yang jelek?


Salam anget


linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More